UNESCO Catat 189 Jurnalis Gugur pada 2024–2025, Mayoritas di Zona Konflik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Nov 2026, 08:47
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi Pers Ilustrasi Pers (Istimewa)

Ntvnews.id, New York - Jumlah jurnalis, pekerja media, dan pembuat konten media sosial yang gugur saat menjalankan aktivitas jurnalistik di seluruh dunia meningkat 20 persen sepanjang 2024–2025. Laporan terbaru Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mencatat sebanyak 189 orang kehilangan nyawa dalam periode tersebut, dengan sebagian besar kasus terjadi di wilayah konflik bersenjata.

"Dari 1 Januari 2024 hingga 31 Desember 2025, UNESCO mencatat 189 jurnalis, pekerja media, dan pembuat konten media sosial yang terlibat dalam kegiatan jurnalistik di seluruh dunia gugur, naik 20 persen dibanding periode sebelumnya," demikian laporan tersebut.

UNESCO juga mengungkapkan bahwa jumlah jurnalis yang meninggal dunia sepanjang 2025 menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Sebagian besar korban tewas di tengah konflik bersenjata, termasuk akibat serangan pesawat nirawak atau drone.

Berdasarkan laporan tersebut, kawasan negara-negara Arab mencatat angka kematian jurnalis tertinggi dengan 97 kasus. Sementara itu, kawasan Amerika Latin dan Karibia melaporkan 37 kasus kematian.

Palestina menjadi negara dengan jumlah jurnalis gugur terbanyak. Sedikitnya 62 pekerja media dilaporkan meninggal dunia dalam periode tersebut.

Baca Juga: Jepang Desak Rusia Bebaskan Jurnalis yang Ditahan atas Dugaan Mata-mata

Selain itu, sebanyak 12 jurnalis tewas di Ukraina dan dua lainnya di Federasi Rusia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan bahwa sejumlah jurnalis Rusia yang dibunuh oleh milisi rezim Kiev kembali tidak tercantum dalam laporan terbaru Direktur Jenderal UNESCO mengenai keselamatan jurnalis.

UNESCO turut mencatat peningkatan jumlah jurnalis yang menjadi korban pembunuhan di wilayah konflik. Dalam dua tahun terakhir, angka tersebut naik 24 persen, dengan serangan menggunakan drone menjadi salah satu penyebab utama.

"Selama periode dua tahun 2024–2025, UNESCO mencatat 127 kasus pembunuhan jurnalis di negara-negara yang menghadapi konflik bersenjata, menyumbang 67 persen dari total kematian," tulis laporan tersebut.

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa sekitar 40 persen kematian jurnalis dalam konteks tersebut berkaitan dengan penggunaan drone.

Secara keseluruhan, sedikitnya 50 jurnalis dilaporkan tewas akibat serangan pesawat nirawak di enam negara selama periode 2024–2025.

 

TERKINI

Load More