Ntvnews.id, Tel Aviv - Ratusan warga Israel menggelar aksi demonstrasi. Mereka mendesak pembentukan pemerintahan koalisi yang melibatkan partai-partai Yahudi dan Arab untuk mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Media Israel, Haaretz, melaporkan aksi unjuk rasa tersebut berlangsung di tiga lokasi berbeda, yakni Paris Square di Yerusalem, Unesco Square di Haifa, serta Taman Mesila di Tel Aviv.
Dalam aksi tersebut, para demonstran membawa sejumlah spanduk berisi tuntutan, di antaranya bertuliskan "Ya, untuk pemerintahan Yahudi-Arab" dan "Kebebasan untuk semua, from river to the sea".
Partai-partai Arab Israel merupakan kekuatan politik yang dipimpin oleh warga keturunan Arab Palestina di Israel. Mereka selama ini memperjuangkan kesetaraan serta keadilan bagi komunitas Arab di negara tersebut.
Baca Juga: Partai Arab Israel Siap Berkoalisi dengan Eisenkot untuk Lengserkan Netanyahu
Aksi demonstrasi ini mencerminkan semakin kuatnya dorongan masyarakat untuk membentuk pemerintahan yang lebih inklusif. Desakan tersebut muncul setelah hasil pemilu Israel menunjukkan kebuntuan politik karena dua kekuatan politik utama gagal memperoleh mayoritas 61 kursi parlemen sebagai syarat membentuk pemerintahan.
Dua kekuatan politik tersebut adalah Partai Likud yang dipimpin Netanyahu dan Partai Yashar pimpinan mantan panglima militer Gadi Eisenkot.
Baca Juga: Netanyahu Hanya Butuh Empat Kursi Tambahan untuk Pertahankan Jabatan PM Israel
Berdasarkan hasil sementara penghitungan suara, belum ada blok politik yang berhasil mencapai ambang batas mayoritas dari total 120 kursi Knesset atau parlemen Israel.
Komite Pusat Pemilihan Israel mencatat, hingga Kamis, 29 Oktober 2026 sore WIB, sebanyak 90,4 persen suara telah dihitung. Hasil sementara menunjukkan blok Netanyahu memperoleh 52 kursi, sedangkan partai yang dipimpin Eisenkot mendapatkan 48 kursi.
Sementara itu, partai-partai Arab Israel berhasil mengumpulkan 20 kursi. Perolehan tersebut terdiri atas 12 kursi untuk Joint List dan delapan kursi bagi Ra'am.
Partai Arab Tawarkan Dukungan kepada Oposisi
Di tengah kebuntuan pembentukan pemerintahan, pemimpin blok parlemen Joint List sekaligus anggota Knesset dari kalangan Arab, Ahmad Tibi, menyatakan pihaknya membuka peluang bekerja sama dengan kelompok oposisi untuk menjatuhkan pemerintahan Netanyahu.
Kelompok yang disebut sebagai "blok perubahan" merupakan aliansi oposisi yang berupaya menggantikan pemerintahan Netanyahu. Aliansi tersebut terdiri atas Partai Yashar, Yesh Atid pimpinan Yair Lapid, Partai Demokrat pimpinan Yair Golan, Beyachad pimpinan Naftali Bennett, serta Yisrael Beiteinu yang dipimpin Avigdor Lieberman.
Dalam pernyataan tertulis yang diterima Anadolu Agency, Tibi menyebut tingginya partisipasi pemilih Arab menjadi pencapaian penting bagi Joint List dalam pemilu kali ini.
"Partisipasi pemilih Arab yang sangat tinggi merupakan pencapaian bersejarah bagi Joint List. Aliansi ini menjawab seruan masyarakat untuk bersatu dan membuktikan bahwa mereka merupakan kekuatan penentu yang tanpanya perubahan mustahil terwujud," kata Tibi.
Ia menegaskan, Joint List siap menjalin komunikasi dengan kelompok oposisi untuk mengakhiri pemerintahan Netanyahu bersama Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
"Kami mengulurkan tangan kepada 'blok perubahan' untuk menggulingkan pemerintahan Netanyahu-Ben-Gvir, yang akan diawali dengan pencopotan Ketua Knesset Amir Ohana," tambahnya.
Tawaran tersebut menjadi perkembangan penting dalam dinamika politik Israel. Pasalnya, dukungan partai-partai Arab berpotensi menjadi faktor penentu bagi kelompok oposisi untuk mengamankan mayoritas kursi parlemen dan membentuk pemerintahan baru.
Pemilu Israel (Istimewa)