Ntvnews.id, Jakarta - Amerika Serikat dikabarkan telah menginstruksikan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi potensi kampanye militer yang singkat namun intensif terhadap Iran, menyusul perhelatan pemilu sela AS pada 3 November mendatang.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal, dikutip Rabu, 28 Oktober 2026, pesan tersebut disampaikan melalui jalur diplomasi maupun militer. Langkah ini diindikasikan sebagai persiapan strategis antara AS dan Israel untuk melancarkan operasi tempur baru guna melemahkan Iran sekaligus memaksa Teheran kembali meja perundingan.
Sebagai langkah antisipasi dan penguatan postur pertahanan, militer AS dilaporkan telah merelokasi sistem pertahanan rudal Patriot dari Texas ke kawasan Timur Tengah, memindahkan pasukan dari pangkalan-pangkalan yang dinilai rentan, serta mengisi ulang persediaan amunisi. Selain itu, pengerahan kekuatan tempur udara juga disiapkan dengan menyiagakan pesawat pengebom dan jet tempur.
Kekuatan militer AS di kawasan tersebut juga akan semakin dipertebal bulan depan dengan bergabungnya satu kelompok tempur kapal induk tambahan serta satu unit ekspedisi Marinir, yang akan melengkapi sekitar 20 kapal perang AS yang telah lebih dulu berada di Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Bakal Larang Penggunaan Istilah Kecerdasan Artifisial, Diganti Jadi Kecerdasan Super
Meskipun Presiden AS Donald Trump belum mengambil keputusan akhir, pihak-pihak yang mengetahui proses pemikirannya menyebutkan bahwa ia cenderung mempertimbangkan opsi serangan berskala besar pascapemilu, yang berpotensi menargetkan infrastruktur penting serta fasilitas nuklir Iran.
Menanggapi laporan tersebut, pihak Gedung Putih enggan memberikan komentar terkait rencana militer yang bersifat sensitif.
“Presiden Trump mempertahankan semua opsi untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir,” ujar pihak Gedung Putih.
Dalam agenda kampanyenya di Lubbock, Texas, pada hari Selasa, Trump sempat memberikan pernyataan terkait situasi tersebut.
“Anda akan melihat Iran dalam beberapa minggu, jika Anda tidak keberatan,” ujar Trump. Ia juga mengeklaim bahwa pihaknya telah menghancurkan kapasitas pengayaan nuklir Iran melalui Operasi Midnight Hammer dan Operasi Epic Fury, serta mengalahkan negara tersebut secara militer maupun finansial. “Ini bisa berakhir kapan pun saya menginginkannya,” imbuhnya.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan bahwa AS tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela. Namun, pada 23 Oktober lalu, ia kembali membuka kemungkinan dilakukannya operasi militer lanjutan.
Sebagai catatan, eskalasi antara AS, Israel, dan Iran sebelumnya sempat memuncak ketika konflik terbuka meletus pada 28 Februari lalu. Situasi tersebut memicu aksi balasan dari Teheran berupa serangan rudal dan drone di kawasan, yang secara efektif menutup Jalur Selat Hormuz sebagai salah satu urat nadi pasokan energi global. Meski pada bulan Juni kedua belah pihak sempat meneken nota kesepahaman menuju perjanjian damai, kesepakatan tersebut akhirnya kandas di tengah jalan akibat perselisihan terkait isu navigasi di Selat Hormuz.
(Sumber: Antara)
Photo file: Para demonstran anti-perang menggelar protes di dekat Gedung Putih menentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, di Washington DC, Amerika Serikat pada 7 April 2026. (Antara)