Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadikan kerusuhan yang terjadi di Prancis sebagai materi kampanye untuk meraih dukungan bagi Partai Republik dalam pemilu sela. Ia menggunakan situasi tersebut untuk menyerang Partai Demokrat sekaligus mendorong pemilih mempertahankan kursi Senat yang selama ini dikuasai Partai Republik di negara bagian Kansas.
Dilansir dari Reuters, Rabu, 21 Oktober 2026, Trump menyinggung aksi demonstrasi di Prancis yang dipicu kenaikan biaya hidup dan berujung pada pembakaran serta penjarahan. Pernyataan itu disampaikan saat ia berkampanye di Kansas pada Senin, 29 Oktober 2026, untuk mendukung Roger Marshall, senator petahana dari Partai Republik.
Meski Kansas selama bertahun-tahun menjadi basis Partai Republik, para kandidat partai tersebut belakangan menghadapi tekanan akibat ketidakpuasan pemilih terhadap perang Iran dan meningkatnya harga kebutuhan.
Dalam pidatonya, Trump berupaya meyakinkan warga Kansas agar kembali memilih Marshall dalam pemilu sela yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November mendatang. Ia menggambarkan gelombang demonstrasi di Prancis sebagai gambaran situasi yang berpotensi terjadi di Amerika Serikat apabila Partai Republik gagal memenangkan pemilu.
Namun, Trump tidak menyertakan bukti untuk mendukung klaim tersebut.
Prancis dalam beberapa hari terakhir dilanda salah satu gelombang kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kemarahan masyarakat terhadap biaya hidup yang semakin tinggi, penurunan kualitas layanan publik, serta kondisi sekolah yang dinilai tidak memadai memicu demonstrasi besar-besaran. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi pembakaran dan penjarahan.
Di sisi lain, Trump juga menghadapi tantangan dalam merealisasikan upayanya menekan harga barang dan jasa agar lebih terjangkau bagi masyarakat Amerika Serikat.
Baca Juga: Netanyahu Desak Trump Lanjutkan Perang Iran Jelang Pemilu Israel dan AS
Saat berkampanye di Kansas yang dikenal konservatif, Trump turut melontarkan retorika anti-imigran dan anti-Muslim. Narasi tersebut sebelumnya kerap digunakan untuk menggalang dukungan dalam sedikitnya tiga pemilu presiden AS yang pernah diikutinya.
"Kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi di negara ini," ucap Trump, merujuk pada demo rusuh di Prancis.
"Saat Anda melihat menara gereja terbakar dan api berkobar di Prancis, ingatlah bahwa itulah yang ingin dilakukan oleh para Dumocrat radikal terhadap Amerika," sebutnya, menggunakan istilah "Dumocrat" untuk mengejek Partai Demokrat.
Selama bertahun-tahun, para aktivis hak asasi manusia (HAM) berulang kali mengecam pernyataan Trump yang kerap menyasar imigran dan kelompok etnis minoritas. Sejumlah kelompok hak sipil menilai retorika tersebut berisiko membuat perlakuan diskriminatif terhadap kelompok yang terpinggirkan semakin dianggap wajar.
Persaingan ketat dalam pemilu sela tahun ini juga memperlihatkan besarnya tantangan yang dihadapi Partai Republik. Partai tersebut berupaya mengatasi sentimen politik yang kurang menguntungkan sekaligus mempertahankan kendali atas DPR dan Senat AS.
Untuk memperkuat posisi partainya di Kongres, Trump menjalani rangkaian kampanye intensif selama 32 hari. Dalam agenda tersebut, ia berulang kali mendatangi wilayah-wilayah yang sebelumnya berhasil dimenangkannya dengan selisih suara besar dalam pemilu terdahulu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)