AS Blokir DeepSeek di Lembaga Federal, Trump Khawatir Data Sensitif Jatuh ke China

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 20 Okt 2026, 11:20
thumbnail-author
Adiantoro
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Logo Deepseek terlihat pada ilustrasi yang diambil pada 29 Januari 2025. (Foto: Dok/Dado Ruvic/Reuters) Logo Deepseek terlihat pada ilustrasi yang diambil pada 29 Januari 2025. (Foto: Dok/Dado Ruvic/Reuters)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintahan Presiden Donald Trump memperketat pembatasan penggunaan kecerdasan buatan (AI) asal China.

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) kini melarang sebagian besar lembaga sipil federal menggunakan DeepSeek, termasuk produk dan layanan pihak ketiga yang mengandalkan model AI tersebut.

Dilansir dari Gizmodo, dalam pemberitahuan yang dipublikasikan pada Senin (20/10/2026), DHS memerintahkan lembaga-lembaga federal, termasuk Departemen Luar Negeri, untuk menghapus seluruh produk DeepSeek dari sistem mereka.

Kebijakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Washington terhadap risiko keamanan data dan potensi pengaruh pemerintah China melalui teknologi AI.

Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Markwayne Mullin mengatakan, proses pembuatan akun DeepSeek mengharuskan pengguna memberikan informasi identitas pribadi atau personally identifiable information (PII).

Platform tersebut juga berpotensi melacak dan mengidentifikasi pengguna secara digital. Dalam catatan yang sebelumnya dibuat pada Juli dan baru dipublikasikan pada Senin (19/10/2026), Mullin memperingatkan bahwa data sensitif yang dikumpulkan DeepSeek berpotensi dialihkan kepada pemerintah China.

Dia juga menyoroti kemungkinan adanya perangkat lunak berbahaya (malware) dalam model AI tersebut. Kekhawatiran itu membuat pemerintah AS semakin membatasi akses terhadap teknologi AI China di lingkungan pemerintahan.

Sebelumnya, Angkatan Laut AS dan Departemen Perdagangan telah menginstruksikan personel mereka untuk tidak menggunakan model DeepSeek.

DeepSeek Pernah Mengguncang Industri AI AS

DeepSeek menjadi sorotan global pada awal 2025 setelah meluncurkan model AI R1. Model tersebut menarik perhatian karena menawarkan kemampuan penalaran yang kompetitif dengan biaya pengembangan yang diklaim jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah pesaingnya dari Amerika Serikat.

Peluncuran R1 sempat mengguncang industri teknologi dan memicu gejolak di pasar saham. Kemunculan DeepSeek juga memperkuat kekhawatiran Washington bahwa perusahaan AI China dapat mempersempit keunggulan teknologi yang selama ini dimiliki Amerika Serikat.

Persaingan tersebut semakin ketat seiring kemajuan laboratorium AI China lainnya. Pada Juli, Moonshot AI turut menarik perhatian melalui model Kimi K3, yang kembali memicu perdebatan mengenai kemampuan China mengejar ketertinggalan dalam pengembangan kecerdasan buatan.

Di Washington, perkembangan ini meningkatkan kekhawatiran bahwa kemajuan AI China dapat memperkuat posisi Beijing, termasuk dalam bidang pertahanan dan kemampuan militer.

Meski kedua negara adidaya tersebut dilaporkan menjajaki peningkatan kerja sama melalui kerangka dialog AI AS-China, para pengkritik pemerintah Beijing di Amerika tetap memperingatkan risiko strategis jika China berhasil mempersempit atau melampaui keunggulan teknologi AS.

Baca Juga: CEO Intel Soroti Pesatnya Adopsi AI China, Model DeepSeek hingga Kimi Makin Diperhitungkan

DeepSeek Dituduh Manfaatkan Model AI Pesaing

Selain persoalan keamanan data, DeepSeek juga menghadapi tuduhan terkait praktik distillation atau distilasi model AI. Teknik ini memungkinkan model AI yang lebih kecil atau kurang canggih dilatih menggunakan keluaran dari model yang lebih kuat.

Praktik tersebut dikenal luas dalam industri AI karena dapat membantu pengembang membangun model yang lebih efisien dengan biaya lebih rendah. Namun, sejumlah perusahaan AI Amerika, termasuk Anthropic, menuduh pesaing asal China memanfaatkan keluaran model mereka secara tidak semestinya untuk meningkatkan kemampuan produk sendiri.

Anthropic menyebut praktik yang dituduhkan tersebut melanggar ketentuan penggunaan platform-nya. Pemerintah AS juga memandang dugaan praktik distilasi oleh perusahaan AI China sebagai persoalan serius.

Washington menilai tindakan tersebut berpotensi merugikan pengembang Amerika dan menyamakannya dengan pencurian data pelatihan atau kecurangan dalam persaingan teknologi.

Bulan lalu, Badan Keamanan Nasional (NSA), Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA), serta Biro Investigasi Federal (FBI) dilaporkan menyoroti dugaan kampanye distilasi berskala industri yang melibatkan sejumlah perusahaan AI China. DeepSeek turut disebut dalam surat bersama ketiga lembaga tersebut.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengancam kemungkinan pemberian sanksi atas praktik yang dinilainya sebagai pencurian kekayaan intelektual. Meski demikian, distilasi sendiri bukan praktik yang secara inheren ilegal. Persoalan utamanya terletak pada bagaimana data atau keluaran model diperoleh dan apakah penggunaannya melanggar ketentuan, hak, atau hukum yang berlaku.

China Juga Perketat Pengawasan AI

Di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat, pemerintah China juga dilaporkan memperketat pengawasan terhadap industri AI domestiknya, termasuk DeepSeek. Pada awal Oktober, otoritas Beijing dilaporkan mengusulkan kebijakan yang berpotensi memberlakukan kontrol ekspor terhadap distribusi sejumlah model AI China ke luar negeri.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa persaingan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknologi, tetapi juga menyangkut keamanan nasional, perlindungan kekayaan intelektual, pengelolaan data, dan kendali atas penyebaran teknologi strategis.

Bagi Amerika Serikat, pembatasan DeepSeek di lembaga federal menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko keamanan yang dinilai dapat muncul dari penggunaan teknologi asing dalam sistem pemerintahan. Namun, tuduhan mengenai potensi pengiriman data ke China maupun penyalahgunaan model AI tetap perlu dibedakan dari fakta yang telah dibuktikan secara independen.

Persaingan antara Washington dan Beijing pun diperkirakan terus memengaruhi arah pengembangan, regulasi, dan penggunaan AI di tingkat global.

TERKINI

Danantara Resmi Akuisisi Lahan 4,4 Hektare dan Hotel di Makkah

Properti Selasa, 20 Okt 2026 | 10:56 WIB

80 Saham HSC Bakal Dikeluarkan dari IHSG

Ekonomi Selasa, 20 Okt 2026 | 10:30 WIB

Dolar AS Turun Tipis, Rupiah Menguat ke Level Rp18.015

Keuangan Selasa, 20 Okt 2026 | 10:12 WIB

Siap Perbesar Porsi, Danantara Bakal Tambah Saham BUMN

Ekonomi Selasa, 20 Okt 2026 | 10:10 WIB

Harga Emas Antam Selasa Anjlok ke Level Rp2,56 Juta per Gram

Keuangan Selasa, 20 Okt 2026 | 10:02 WIB

IHSG Selasa Pagi Berbalik Menguat ke Level 5.000

Keuangan Selasa, 20 Okt 2026 | 09:43 WIB

BGN Kebut Aktivasi SPPG Baru di Wilayah 3T

Ekonomi Selasa, 20 Okt 2026 | 09:41 WIB
Load More
x|close