Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjanjikan hadiah sebesar US$ 1 juta atau sekitar Rp 18 miliar bagi siapa saja yang melaporkan dugaan kecurangan dalam pemilu sebelumnya maupun pemilu sela yang akan digelar pada 3 November mendatang.
Namun, pemberian hadiah tersebut memiliki syarat. Informasi yang disampaikan harus berujung pada penangkapan dan vonis terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kecurangan tersebut.
"Siapa pun yang melaporkan kecurangan pemilih dalam pemilu sebelumnya, atau pemilu sela 2026 yang akan datang, akan diberi imbalan US$ 1.000.000 setelah pihak yang melakukan kecurangan itu ditangkap dan divonis!" kata Trump melalui akun media sosial Truth Social miliknya, dikutip dari Anadolu, Rabu, 28 Oktober 2026.
Trump tidak memerinci sumber pendanaan untuk hadiah tersebut. Ia juga belum menjelaskan mekanisme yang akan digunakan untuk mengelola dan menyalurkan imbalan kepada para pelapor.
Pengumuman itu muncul menjelang pelaksanaan pemilu sela AS pekan depan. Dalam pemilu tersebut, masyarakat akan menentukan partai yang menguasai Kongres di tengah meningkatnya perselisihan politik terkait integritas penyelenggaraan pemilu.
Baca Juga: Manchester United Berikan Kesempatan Terakhir ke Michael Carrick
Dalam beberapa waktu terakhir, Trump bersama Partai Republik semakin gencar menyuarakan kekhawatiran mengenai dugaan kecurangan dalam proses pemungutan suara.
Sementara itu, Partai Demokrat dan sejumlah aktivis hak pilih menentang langkah-langkah tersebut. Mereka menilai tindakan yang dilakukan sebagai bagian dari kampanye intimidasi yang berpotensi membuat masyarakat takut untuk menggunakan hak pilihnya.
Trump selama bertahun-tahun juga menuding, tanpa menyertakan bukti, bahwa ratusan ribu orang yang bukan warga negara AS telah memberikan suara di sejumlah negara bagian yang dikuasai Partai Demokrat. Menurutnya, tindakan tersebut telah memengaruhi hasil pemilu.
Untuk memperkuat klaim tersebut, Trump dan pihak-pihak yang mewakilinya kini mengambil sejumlah langkah investigasi. Salah satunya, seperti dilaporkan media CBS, adalah mengerahkan agen federal bersenjata ke sejumlah rumah warga di beberapa negara bagian.
Para agen tersebut dilaporkan mendatangi warga untuk menanyakan status keimigrasian mereka serta memastikan apakah mereka menggunakan hak suara dalam pemilu sebelumnya.
Langkah-langkah tersebut menambah perdebatan politik di AS mengenai keamanan pemilu, hak memilih, serta tuduhan kecurangan yang terus disampaikan menjelang pemilu sela.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)