Ntvnews.id, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyatakan bahwa negaranya telah memperoleh hak atas Greenland. Ia mengklaim Washington telah menandatangani perjanjian dengan Denmark yang memberikan AS hak atas wilayah strategis di kawasan Arktik tersebut.
Pernyataan Trump itu disampaikan di tengah status Greenland yang masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Klaim tersebut juga kembali memunculkan perhatian terhadap ambisi AS memperluas pengaruhnya di kawasan Arktik.
Dalam pidatonya di Michigan, Trump mengatakan kesepakatan mengenai Greenland sebenarnya telah tercapai, tetapi belum banyak mendapat pemberitaan media. Ia menyebut perjanjian itu tidak memiliki batas waktu dan mengklaim AS telah mendapatkan hak atas wilayah tersebut.
"Kita telah mendapatkan Greenland. Kita telah menandatangani persetujuan atas wilayah tersebut dua minggu yang lalu, tetapi terlalu sedikit media yang memberitakannya. Padahal kita telah mendapatkan Greenland, bekerja sama dengan Denmark. Kita menandatangani perjanjian dengan baik, dengan pengacara yang hebat, dan tidak ada batas waktu," ujar Trump, dikutip dari AFP, Selasa, 27 Oktober 2026.
Trump turut menanggapi kritik terhadap keinginannya menguasai Greenland. Sebelumnya, ambisi tersebut memicu kekhawatiran di sejumlah negara Eropa karena berpotensi menimbulkan ketegangan antara Washington dan sekutunya.
"Kritik menyebut saya akan berperang dengan Eropa, saya akan berperang dengan Denmark. Ya ampun, orang-orang ini buruk sekali. Namun, kita sudah menandatanganinya. Intinya, kita membelinya. Kita memiliki semua hak yang mungkin dimiliki, dan itu hebat," tegas Trump.
Sebelumnya, pada 22 September 2026, Trump bersama para pemimpin Denmark dan Greenland menandatangani perjanjian kerja sama keamanan dan pertahanan di kawasan Arktik.
Kesepakatan tersebut membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk memperluas fasilitas militernya di Greenland. Namun, perjanjian itu tidak mengalihkan kedaulatan Greenland dari Denmark kepada Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Antara)