Ntvnews.id, Okinawa - Seorang anggota Korps Marinir Amerika Serikat (AS) yang bertugas di Jepang didakwa atas dugaan pembunuhan dan perampokan terhadap seorang wanita di Prefektur Okinawa, Minggu, 25 Oktober 2026.
Tersangka bernama Devin Ballard (20), yang bertugas di Pangkalan Udara Futenma, diduga membunuh korban di sebuah hotel di Naha, ibu kota Prefektur Okinawa, pada 3 Oktober lalu. Setelah menghabisi nyawa korban, tersangka juga diduga mengambil barang-barang berharga milik wanita tersebut.
Dilansir dari Anadolu Agency, Senin, 26 Oktober 2026, yang merujuk laporan Kyodo News, Ballard diduga menjerat leher korban menggunakan kabel pengisi daya ponsel hingga meninggal dunia sebelum membawa barang berharga milik korban.
Polisi setempat menangkap Ballard pada 4 Oktober. Ia ditemukan berjalan seorang diri di wilayah Kota Okinawa beberapa jam setelah kejadian tersebut.
Kasus ini memicu kemarahan masyarakat setempat terhadap keberadaan pangkalan militer AS di Okinawa. Selama bertahun-tahun, warga telah menyuarakan penolakan karena keberadaan pangkalan tersebut kerap dikaitkan dengan berbagai persoalan, mulai dari tindak kriminal, kebisingan, hingga pencemaran lingkungan.
Gubernur Okinawa Genta Koja mendesak pemerintah pusat Jepang di Tokyo agar segera mengambil tindakan tegas untuk mencegah terulangnya tindak kejahatan yang melibatkan personel militer asing.
Baca Juga: Rusia Tangkap Jurnalis Jepang atas Dugaan Mata-mata
Pemerintah Jepang juga menyampaikan protes keras kepada Washington. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengecam tindakan anggota Marinir AS tersebut dan menyebutnya sebagai kejahatan yang sangat keji.
Tokyo meminta pemerintah AS bekerja sama sepenuhnya dalam proses hukum yang berjalan. Jepang juga mendesak agar kedisiplinan personel militer AS yang bertugas di wilayahnya diperketat.
Sebagai respons atas insiden tersebut, komando militer AS di Okinawa memberlakukan pembatasan aktivitas malam selama 30 hari mulai 9 Oktober. Dalam kebijakan itu, seluruh personel militer AS dilarang meninggalkan pangkalan pada pukul 00.00 hingga 05.00 waktu setempat.
Pemerintah Jepang dan AS kini mengintensifkan dialog untuk mengevaluasi aturan perilaku personel militer di luar pangkalan. Kedua negara juga membahas rencana pelaksanaan patroli gabungan antara kepolisian Jepang dan militer AS di Okinawa guna mencegah kejadian serupa terulang.
Ilustrasi mayat (freepik/ kjpargeter)