Ntvnews.id, Paris - Gelombang demonstrasi melanda sejumlah kota di Eropa dalam beberapa waktu terakhir. Aksi protes yang berlangsung di Prancis, Italia, Albania, Spanyol, Portugal, hingga Belgia tersebut dipicu beragam persoalan, mulai dari kebijakan pensiun, krisis perumahan, pendidikan, korupsi, hingga penolakan terhadap perang.
Ribuan warga turun ke jalan untuk menyampaikan tuntutan mereka. Di sejumlah lokasi, demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berkembang menjadi kericuhan dan bentrokan dengan aparat keamanan.
Berikut rangkuman situasi demonstrasi di enam negara Eropa, sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional.
1. Prancis
Mengutip Reuters, demonstrasi berlangsung di sejumlah kota di Prancis pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Aksi di Paris dan Marseille yang semula berjalan damai berubah menjadi bentrokan ketika malam tiba.
Kementerian Dalam Negeri Prancis memperkirakan sekitar 410.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh negeri. Namun, serikat pekerja menyebut jumlah peserta sebenarnya mencapai dua kali lipat dari angka pemerintah.
Baca Juga: Macron Kritik Trump hingga Netanyahu yang Komentari Demo Prancis
Di Marseille, demonstran membakar tempat sampah untuk menghalangi jalan serta melemparkan batu dan botol ke arah aparat keamanan.
Kericuhan serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah kota lain, termasuk Lyon, Bordeaux, Grenoble, Clermont-Ferrand, Lille, Rennes, Nantes, dan Toulouse.
2. Italia
Ribuan orang menggelar demonstrasi di berbagai kota di Italia, seperti Milan, Roma, Turin, Napoli, Bologna, dan Florence. Euronews melaporkan bahwa sejumlah demonstran melemparkan botol, batu, hingga petasan selama aksi berlangsung.
Kepolisian Italia menyatakan telah menangkap sembilan orang dan mengamankan sementara 371 orang dalam demonstrasi yang berlangsung di delapan kota pada Sabtu.
Dari total orang yang dibawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan, sebanyak 110 orang diketahui masih berusia di bawah 18 tahun.
3. Albania
Ibu kota Albania, Tirana, menjadi lokasi demonstrasi antipemerintah yang diikuti ribuan orang pada Sabtu. Untuk membubarkan massa, polisi menggunakan gas air mata setelah aksi berkembang menjadi bentrokan.
Ketegangan antara demonstran dan aparat telah berulang kali terjadi sejak pertengahan Oktober. Dalam insiden terbaru, sejumlah gedung pemerintahan dilaporkan menjadi sasaran serangan, sementara puluhan pengunjuk rasa ditangkap.
Pihak berwenang menyebut lebih dari 300 orang, baik dari kalangan demonstran maupun polisi, mengalami luka-luka akibat rangkaian bentrokan tersebut.
4. Spanyol
Di Barcelona, demonstrasi yang disebut sebagai aksi antipemerintahan atau anti-system berlangsung pada Sabtu. Kericuhan yang disertai penjarahan dan pembakaran di alun-alun kota berujung pada penangkapan 100 orang.
Sementara itu, demonstrasi di Madrid berfokus pada tuntutan perbaikan sistem pensiun. Para peserta meminta agar kenaikan pensiun disesuaikan dengan tingkat inflasi aktual.
Mereka juga mendesak pemerintah meningkatkan pensiun minimum agar setara dengan upah minimum, mengatasi kesenjangan pensiun antara laki-laki dan perempuan, serta menjaga sistem pensiun publik dari privatisasi.
5. Portugal
Di Lisbon, ribuan demonstran mendirikan lebih dari 100 tenda di sepanjang salah satu jalan utama ibu kota pada Sabtu. Aksi tersebut berkaitan dengan persoalan keterjangkauan tempat tinggal yang semakin membebani masyarakat.
Namun, pada Minggu, 25 Oktober 2026 dini hari, polisi membubarkan tenda-tenda tersebut dan melakukan sejumlah penangkapan.
Portugal saat ini menghadapi krisis perumahan yang tergolong serius di Eropa. Harga rumah di negara tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017, sedangkan biaya sewa untuk kontrak baru hampir mengalami kenaikan dua kali lipat.
Kondisi tersebut turut menekan masyarakat, khususnya kalangan muda yang semakin kesulitan memperoleh tempat tinggal dengan harga terjangkau.
6. Belgia
Bentrokan antara demonstran dan polisi juga terjadi di ibu kota Belgia, Brussels, pada Sabtu. Dalam menghadapi massa, aparat menggunakan gas air mata dan semprotan merica.
Aksi protes di Belgia yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir antara lain menyoroti persoalan pendanaan pendidikan. Para demonstran juga mengecam tindakan aparat yang mereka nilai menggunakan kekuatan secara berlebihan.
Rangkaian demonstrasi di enam negara tersebut memperlihatkan beragam persoalan sosial dan politik yang memicu ketidakpuasan masyarakat Eropa. Di sejumlah wilayah, tekanan biaya hidup dan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong warga turun ke jalan.
Ilustrasi aksi unjuk rasa di Prancis (Antara)