Ntvnews.id, Paris - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengkritik Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pemimpin negara lain yang ikut memberikan komentar mengenai gelombang demonstrasi di Prancis. Macron menilai pernyataan mereka tidak berdasar dan disampaikan demi kepentingan politik masing-masing.
Meski tidak menyebut nama secara langsung, Macron menyoroti maraknya penyebaran informasi yang dianggap menyesatkan setelah kerusuhan terjadi pada Sabtu, 17 Oktober 2026 lalu. Ia menyebut situasi tersebut memicu tanggapan yang tidak pantas dari sejumlah tokoh internasional.
Macron kemudian mendapat pertanyaan apakah kritik itu juga ditujukan kepada Trump. Ia menjawab, "Termasuk dia."
Sebelumnya, Trump menyalahkan kelompok "migran, jihadis, dan komunis" atas kekerasan yang terjadi di Prancis. Pernyataan tersebut muncul ketika Trump sedang berkampanye untuk Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.
Macron juga menyoroti sejumlah pemimpin yang tengah berkampanye menjelang pemilu, baik di kawasan Eropa maupun Amerika Serikat. Menurutnya, para pemimpin tersebut dinilai terlalu mudah menyebarkan narasi yang sengaja dibangun oleh kelompok tertentu.
Baca Juga: Geger Beruang Hitam Besar Masuk Perpustakaan
"Memanfaatkan negara kami untuk kepentingan kampanye politik mereka sendiri. Padahal kami tidak membuktikan hal itu. Kami sudah cukup direpotkan dengan berbagai masalah yang harus dihadapi," ujar Macron, seperti dikutip dari The Guardian, Jumat, 23 Oktober 2026.
Selain Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya juga melontarkan pernyataan mengenai situasi di Prancis. Netanyahu, yang dijadwalkan menghadapi pemilu pada 27 Oktober, menyebut Prancis telah dilanda "invasi Islam ekstremis".
Namun, sejumlah analis menolak anggapan bahwa migran merupakan penyebab utama gelombang demonstrasi di Prancis.
Aksi unjuk rasa yang semula berlangsung damai kemudian berkembang menjadi kerusuhan dan penjarahan di sejumlah kota besar. Paris, Marseille, Lyon, dan Limoges menjadi beberapa wilayah yang terdampak kekerasan tersebut.
Arsip - Presiden Prancis Emmanuel Macron. (ANTARA/Xinhua/Lian Yi/aa.) (Antara)