Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sama-sama menuding kelompok Muslim sebagai pemicu kerusuhan yang terjadi di Prancis. Keduanya juga melontarkan kritik terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron terkait kebijakan imigrasi.
Dilansir dari AFP, Kamis, 22 Oktober 2026, Trump bahkan menyindir bahwa Paris berpotensi berubah menjadi kota Muslim. Ia menilai Macron telah mengambil keputusan yang keliru dengan membuka pintu bagi para imigran untuk masuk ke Prancis.
"Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulu pernah besar ini!" kata Trump tanpa menunjukkan bukti atas tuduhannya.
Pernyataan serupa disampaikan Netanyahu dalam wawancaranya dengan media Prancis. Ia menilai para pemimpin Prancis tidak mampu mengantisipasi kerusuhan yang terjadi di negara tersebut.
Netanyahu mengklaim gejolak itu dipicu oleh kelompok ekstremis Islam. Padahal, demonstrasi yang berlangsung di sejumlah kota besar Prancis, termasuk Paris, melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Baca Juga: 74.480 Warga Gaza Tewas dan 175.539 Luka Akibat Agresi Israel
"Mereka (Prancis) tidak melakukan persiapan tepat waktu dan begitu saja menyerah. Mereka tunduk pada invasi Islam ekstremis," kata Netanyahu dalam wawancaranya bersama media Prancis iNews24, Selasa, 20 Oktober 2026.
Netanyahu juga menyarankan agar Prancis mengambil sikap lebih tegas dalam menghadapi situasi tersebut. Ia meminta pemerintah Prancis melawan kelompok ekstremis dan tidak menerapkan kebijakan akomodasi terhadap mereka.
Namun, seperti Trump, Netanyahu tidak menyertakan bukti yang mendukung tuduhannya terhadap kelompok ekstremis Islam sebagai penyebab kerusuhan.
Pernyataan Dilontarkan Menjelang Pemilu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, pada 24 September 2026. (Antara)
Pernyataan Trump dan Netanyahu tersebut muncul ketika keduanya tengah menghadapi agenda pemilihan umum di negara masing-masing. Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemilu sela pada 3 November 2026, sedangkan pemilihan umum Israel berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Dalam pemilu sela AS, sebanyak 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 35 dari total 100 kursi Senat, serta 39 jabatan gubernur akan diperebutkan.
Pemungutan suara tersebut menjadi ujian penting bagi dua partai politik di tengah masa transisi dan pelaksanaan agenda pemerintahan pada periode kedua kepemimpinan Trump. Hasilnya akan menentukan peta kekuatan politik di Washington, termasuk kemampuan pemerintah menjalankan kebijakan dan besarnya pengaruh kelompok oposisi di Kongres.
Mengutip Chatham House, hasil pemilu sela juga akan memengaruhi keseimbangan kekuasaan di Amerika Serikat. Sementara itu, tingkat kepuasan publik terhadap Trump dilaporkan terus menurun hingga berada di angka 31 persen.
Survei Reuters/Ipsos tersebut dirilis menjelang pemilu sela pada 3 November. Partai Republik yang dipimpin Trump pun menghadapi risiko kehilangan kendali atas Kongres AS.
Netanyahu Hadapi Ujian Politik di Israel
Di Israel, Netanyahu juga menghadapi pemilu yang akan menentukan kelanjutan karier politiknya sebagai perdana menteri. Pemilihan tersebut secara luas dipandang sebagai referendum atas kepemimpinannya sejak perang dimulai, yang diwarnai kehancuran besar dan korban sipil di Jalur Gaza.
Netanyahu, yang tercatat sebagai perdana menteri dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel, telah menyatakan pada Juni lalu bahwa dirinya akan kembali maju dalam pemilihan mendatang.
Politikus berusia 76 tahun itu terus menghadapi kritik sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang kemudian diikuti operasi militer Israel di Jalur Gaza, Palestina. Konflik tersebut telah menewaskan lebih dari 75 ribu warga sipil, menurut angka yang dicantumkan dalam laporan sumber.
Sejumlah jajak pendapat terbaru yang dikutip Al Jazeera memperkirakan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu hanya akan memperoleh sekitar 20 hingga 22 kursi dalam pemilu mendatang.
Situasi itu mencerminkan tantangan politik yang dihadapi Netanyahu. Sebagian pemilih yang sebelumnya mendukungnya diperkirakan beralih ke partai oposisi maupun kelompok sayap kanan yang menawarkan pandangan lebih tegas.
Arsip - Pemimpin Israel Benjamin Netanyahu (kiri) berbincang dengan Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu/py/pri.) (Antara)