Ntvnews.id, Beijing - Militer China mengerahkan personel untuk memantau pergerakan kapal perang Amerika Serikat (AS) yang berlayar di Laut China Selatan. Beijing menuding kapal perang tersebut memasuki wilayah perairan dekat beting yang menjadi sengketa secara "ilegal".
Pemerintah China mengklaim sebagian besar wilayah Laut China Selatan sebagai bagian dari kedaulatannya. Klaim tersebut tumpang tindih dengan kepentingan sejumlah negara, yakni Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam. Dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan di kawasan tersebut terutama melibatkan China dan Filipina.
Dilansir dari Reuters, Rabu, 21 Oktober 2026, Komando Teater Selatan militer China menyatakan kapal perang AS bernama Charleston telah "menyusup secara ilegal" ke perairan dekat Sabina Shoal, yang berada di Kepulauan Spratly. Insiden itu disebut terjadi pada Selasa, 20 Oktoner 2026 dini hari waktu setempat tanpa izin dari pemerintah China.
"Tindakan AS tersebut melanggar hak dan kepentingan berdaulat China, membahayakan keamanan maritim, dan merugikan perdamaian juga stabilitas kawasan," sebut Komando Teater Selatan pada militer China dalam pernyataannya.
Komando Teater Selatan juga mendesak Washington menghentikan aktivitas serupa di kawasan yang disengketakan tersebut.
Baca Juga: 247 Murid TK di China Keracunan, Penanggung Jawab Sekolah Divonis Seumur Hidup
"Pihak AS harus segera menghentikan aktivitas semacam itu," tegas Komando Teater Selatan pada militer China.
Militer China menambahkan bahwa Angkatan Laut mereka telah mengirimkan personel untuk mengikuti pergerakan serta mengawasi kapal perang Charleston selama berada di wilayah tersebut.
Hingga berita ini ditulis, Angkatan Laut AS belum menyampaikan tanggapan atas pernyataan yang dikeluarkan militer China.
Sementara itu, Washington biasanya menyebut pelayaran semacam ini sebagai "operasi kebebasan navigasi". Meski demikian, operasi terakhir yang diketahui dilakukan AS di Laut China Selatan dilaporkan berlangsung lebih dari satu tahun lalu.
Ketegangan di Laut China Selatan juga melibatkan China dan Filipina. Pada bulan lalu, kedua negara dilaporkan terlibat insiden ketika sebuah kapal Penjaga Pantai China bertabrakan dengan kapal Filipina yang tengah menjalankan misi pengisian bahan bakar di sekitar Sabina Shoal.
Beijing dan Manila sama-sama menyatakan klaim kedaulatan atas Sabina Shoal serta wilayah Kepulauan Spratly. Sengketa tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan di kawasan Laut China Selatan.
Di sisi lain, Filipina memiliki perjanjian pertahanan bersama dengan Amerika Serikat. Kerja sama pertahanan tersebut turut menjadi bagian dari dinamika keamanan regional di tengah perselisihan klaim wilayah antara China dan sejumlah negara Asia Tenggara.
Arsip - Ilustrasi - Laut China Selatan. ANTARA/Anadolu/py (Antara)