AS Pertimbangkan Bom Non-Nuklir Terbesar untuk Gempur Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Okt 2026, 05:45
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Markas Besar Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon Markas Besar Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan tengah menyiapkan sejumlah opsi serangan baru terhadap Iran, termasuk kemungkinan menggunakan Massive Ordnance Air Blast (MOAB), bom non-nuklir terbesar dalam persenjataan AS. Senjata tersebut dipertimbangkan untuk menyerang infrastruktur energi dan fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir Iran.

Dilansir dari CNN, Jumat, 16 Oktober 2026, dengan mengutip sejumlah pejabat AS yang mengetahui perencanaan tersebut, opsi penggunaan MOAB dapat diambil apabila Presiden Donald Trump memutuskan untuk kembali melancarkan operasi militer terhadap Teheran.

Pengerahan bom GBU-43/B MOAB akan menjadi eskalasi signifikan dalam konflik kedua negara. Namun, sejumlah pejabat masih meragukan kemampuan senjata tersebut untuk menghancurkan sasaran militer yang menjadi target Washington.

“Trump telah mengarahkan militer untuk menyiapkan pilihan serangan tambahan terhadap sasaran di Iran, termasuk infrastruktur energi dan fasilitas yang berkaitan dengan program nuklir negara tersebut,” sebut laporan CNN, dikutip dari Anadolu, Kamis, 15 Oktober 2026.

Rencana serangan tambahan itu berpeluang dilaksanakan sebelum maupun setelah pemilihan umum paruh waktu AS mendatang. Pelaksanaannya bergantung pada keputusan Trump mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi tempur berskala besar di Iran.

Salah satu sumber yang mengetahui perencanaan militer mengatakan kepada CNN bahwa serangan lanjutan dapat dilakukan sebelum pasukan AS ditarik dari wilayah operasi Komando Pusat AS (CENTCOM).

Baca Juga: Pentagon Masukkan Alibaba dan Baidu ke Daftar Perusahaan Terkait Militer China

Skenario tersebut memungkinkan pemerintahan Trump melancarkan serangan tambahan sebelum mengumumkan kemenangan dan menarik personel militernya dari kawasan tersebut.

Sumber lainnya mengungkapkan bahwa opsi serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, termasuk lokasi bawah tanah yang diduga berada di Pickaxe Mountain, secara khusus mempertimbangkan penggunaan MOAB.

Trump sebelumnya berulang kali mengancam akan menyerang Pickaxe Mountain. Pemerintah AS dan Israel meyakini Iran menyimpan komponen program nuklirnya di lokasi tersebut.

Trump juga berkali-kali menegaskan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir merupakan salah satu sasaran utama kampanye militer AS terhadap negara itu.

Seorang pejabat AS menjelaskan bahwa perencana militer secara berkala menyusun berbagai skenario serangan untuk menjadi bahan pertimbangan pengambil kebijakan. Pilihan tersebut mencakup operasi berintensitas rendah hingga serangan yang lebih besar terhadap sasaran dengan sistem perlindungan ketat.

Efektivitas MOAB terhadap Fasilitas Bawah Tanah Dipertanyakan

MOAB merupakan bom berpemandu GPS yang dirancang untuk menghancurkan wilayah permukaan yang luas, dengan daya rusak yang disebut setara sekitar sembilan blok perkotaan. Meski demikian, senjata ini tidak dirancang khusus untuk menembus jauh ke dalam tanah.

Menurut sumber-sumber yang dikutip CNN, kemampuan MOAB untuk menghancurkan fasilitas yang dilindungi lapisan granit tebal dan struktur pertahanan bawah tanah lainnya masih diragukan.

"MOAB adalah senjata untuk operasi penghancuran area luas yang lebih banyak memberikan efek demonstratif, tetapi tidak banyak berguna untuk hal lain," kata seorang sumber yang mengetahui pembahasan perencanaan militer kepada CNN.

Pernyataan tersebut menyoroti keterbatasan MOAB dalam menghancurkan fasilitas yang berada jauh di bawah permukaan tanah. Karena itu, penggunaan bom tersebut belum tentu efektif untuk melumpuhkan seluruh sasaran strategis Iran yang memiliki perlindungan berlapis.

Di sisi lain, daya hancur MOAB dapat menimbulkan kerusakan besar di sekitar lokasi jatuhnya bom. Jangkauan dampak ledakannya juga memicu kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil, khususnya apabila target serangan berada di dekat kawasan permukiman, infrastruktur energi, atau fasilitas sipil lainnya.

Dampak Psikologis Masuk dalam Perhitungan Militer AS

Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran. Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat dengan bendera Iran.

Selain mempertimbangkan kemampuan penghancurannya, pejabat AS dilaporkan turut memperhitungkan dampak psikologis penggunaan MOAB sebagai bagian dari strategi militer pemerintahan Trump.

Salah satu sumber mengatakan kepada CNN bahwa Trump berpotensi menghadapi tekanan untuk mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Iran. Namun, masih belum dapat dipastikan apakah serangan tambahan akan membuat Teheran bersedia menerima tuntutan Washington.

Sumber tersebut menilai penggunaan MOAB dapat menjadi instrumen tekanan psikologis terhadap Iran. Pertimbangan ini muncul di tengah keterbatasan amunisi yang tersedia untuk menghancurkan sasaran yang terkubur jauh di bawah tanah.

Dengan demikian, meskipun penggunaan MOAB masuk dalam perencanaan militer AS, efektivitasnya terhadap fasilitas nuklir Iran yang terlindungi masih menjadi persoalan. Keputusan untuk melancarkan serangan lanjutan tetap bergantung pada kebijakan Trump dan pertimbangan militer mengenai sasaran yang hendak dicapai.

x|close