Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menilai penguasaan sains dan teknologi serta pengembangan ekonomi kreatif menjadi dua faktor penting untuk mendorong Indonesia mencapai tingkat ekonomi negara berpendapatan tinggi.
Brian menyampaikan hal tersebut dalam puncak peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (HEKRAFNAS) 2026 di Sampoerna Strategic Building, Jakarta, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Menurut Brian, Indonesia membutuhkan mesin pertumbuhan ekonomi yang kuat untuk mencapai target pendapatan per kapita setara negara berpendapatan tinggi, yakni sekitar 15.000 dolar AS. Ia menegaskan bahwa ekonomi kreatif harus dikembangkan sebagai bagian penting dari strategi pembangunan nasional.
“Ada dua hal yang bisa menopang lompatan ekonomi: pertama, penguasaan sains dan teknologi; kedua, ekonomi kreatif,” ujar Brian.
Ia menilai ekonomi kreatif tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai sektor tambahan. Sebaliknya, sektor tersebut perlu mendapatkan perhatian serius karena memiliki potensi untuk menghasilkan karya inovatif sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
“Jadi, ekonomi kreatif ini betul-betul substansi, betul-betul ekonomi yang perlu kita hidupkan,” katanya.
Baca Juga: Mendiktisaintek Dorong Ekonomi Kreatif Masuk Kurikulum Perguruan Tinggi
Brian juga menyampaikan apresiasi kepada Menteri Ekonomi Kreatif, jajaran kementerian terkait, serta Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) yang terus mendorong perkembangan sektor tersebut. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar kreativitas masyarakat dapat berkembang bersama kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia mencontohkan perusahaan animasi Pixar di Hollywood sebagai gambaran bagaimana kreativitas dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang besar. Selain itu, industri musik Korea Selatan melalui grup BTS juga menunjukkan potensi ekonomi dari perpaduan kreativitas dan teknologi.
“Kita tahu Pixar di Hollywood itu menjadi begitu besar, perusahaan bernilai jutaan USD, karena kreativitas,” ujar Brian.
Ia kemudian menyinggung industri musik Korea Selatan yang mampu membawa karya kreatif ke pasar internasional. Menurutnya, keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa kreativitas dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi ketika didukung oleh teknologi dan pengembangan industri yang tepat.
“Jadi, semoga kita akan segera melihat munculnya karya-karya besar anak bangsa karena ekonomi kreatif ini,” tuturnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, Brian menyebut Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tengah mendorong pengembangan ekonomi kreatif di perguruan tinggi. Salah satu langkahnya adalah memperkuat materi ekonomi kreatif dalam pembelajaran kewirausahaan bagi mahasiswa dari berbagai program studi.
Selain itu, pemerintah berencana menggelar kompetisi karya ekonomi kreatif antarkampus pada 2027. Karya-karya mahasiswa yang dihasilkan dari kompetisi tersebut akan dipamerkan melalui kolaborasi dengan GEKRAFS.
Brian juga mengapresiasi pembentukan GEKRAFS Kampus yang telah hadir di lebih dari 20 perguruan tinggi. Menurutnya, ekosistem ini dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas secara terarah dengan dukungan penguasaan sains dan teknologi.
Melalui berbagai langkah tersebut, Brian berharap perguruan tinggi dapat berperan lebih besar dalam melahirkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Perpaduan sains, teknologi, kewirausahaan, dan ekonomi kreatif diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju negara berpendapatan tinggi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) sekaligus Wakil Ketua Dewan Kehormatan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS), Brian Yuliarto (Istimewa)