Ketua Umum Gekrafs Ajak Produk Kreatif NTB Tembus Pasar Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 23 Okt 2026, 16:28
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Kawendra Lukistian. Ketua Umum Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Kawendra Lukistian. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (DPP Gekrafs), Kawendra Lukistian, secara resmi mendorong agar produk-produk unggulan sektor ekonomi kreatif asal Nusa Tenggara Barat (NTB) dapat menembus pasar internasional. Upaya tersebut akan dioptimalkan dengan memanfaatkan jejaring organisasi Gekrafs yang kini telah berdiri dan tersebar di 18 negara.

“Produk kreatif dari Lombok Timur, misalnya, saya harapkan bisa menjadi etalase utama di Inggris, Eropa, dan negara lainnya. Begitu pun di negara-negara lain, kita harus menghadirkan produk dan karya unggulan Indonesia,” kata Kawendra saat memberikan sambutan dalam acara pengukuhan serta pelantikan pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gekrafs kabupaten/kota se-NTB yang dihelat di Mataram, pada Jumat (23/10).

Kawendra memaparkan bahwa jajaran Gekrafs NTB sejatinya telah membuktikan adanya kolaborasi nyata dalam upaya mempromosikan produk lokal hingga ke kancah global. Salah satu contoh sukses yang diangkat adalah produk suvenir serta merchandise resmi MotoGP Mandalika yang merupakan hasil karya tangan para pelaku ekonomi kreatif lokal di NTB.
 

Produk kebanggaan daerah tersebut, lanjutnya, turut diperkenalkan dalam berbagai ajang kegiatan internasional, termasuk sewaktu agenda pelantikan pengurus Gekrafs di Moskow, Rusia. Selain itu, dirinya secara aktif juga kerap mempromosikan destinasi wisata MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, kepada jaringan internasional Gekrafs sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata Indonesia.

“Ini bentuk kolaborasi nyata yang telah dilakukan Gekrafs NTB. Dengan hadirnya Gekrafs, kita tidak hanya menjadi organisasi yang banyak narasi, tetapi juga banyak aksi dan eksekusi,” ujarnya menegaskan.

Lebih lanjut, Kawendra menjelaskan bahwa keberadaan perwakilan Gekrafs di 18 negara merupakan peluang emas bagi para pelaku ekonomi kreatif di daerah untuk memperluas akses pasar ekspor, memperkenalkan produk unggulan secara langsung, serta membangun jejaring kerja sama lintas negara. Jaringan internasional tersebut dipastikan akan terus diperkuat, salah satunya melalui agenda konsolidasi kepengurusan Gekrafs di Tiongkok yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober ini.

Dalam kesempatan yang sama, Kawendra secara khusus menginstruksikan agar seluruh jajaran Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gekrafs di setiap kabupaten/kota se-NTB wajib memiliki minimal satu desa binaan guna memperkuat rantai pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
 

Program desa binaan ini diharapkan mampu menghadirkan kontribusi nyata dan konkret dari organisasi dalam mendampingi para pelaku usaha, membantu mengembangkan kualitas produk, memperluas jangkauan pemasaran, serta mendongkrak nilai tambah dari potensi lokal yang dimiliki.

Ia menilai bahwa Provinsi NTB memiliki potensi sumber daya yang luar biasa besar mengingat berbagai subsektor ekonomi kreatif telah tumbuh dan berkembang dengan baik di daerah tersebut. Tantangan utamanya kini adalah bagaimana memperkuat kontribusi nyata serta memastikan seluruh potensi itu berbuah manis bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

“Kita minta setiap DPC minimal memiliki satu desa binaan. Di sana harus terlihat konkret kontribusi kita dari hulu sampai hilir,” tegasnya lagi.

Kawendra turut mendorong seluruh pengurus untuk secara maksimal memanfaatkan jejaring Gekrafs baik di dalam maupun luar negeri guna membuka seluas-luasnya peluang pemasaran bagi produk-produk kreatif asal NTB di pasar global.

Penguatan sektor ekonomi kreatif di daerah ini, imbuhnya, perlu berjalan selaras dengan momentum peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (Hekrafnas) yang diperingati setiap tanggal 24 Oktober. Ia menceritakan bahwa penetapan hari nasional tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang selama bertahun-tahun melalui serangkaian audiensi dan pertemuan intensif dengan para pemangku kepentingan.
 

Pada peringatan tahun ini, rangkaian kegiatan perayaan dipusatkan di Jakarta, serta diselenggarakan di tujuh provinsi lainnya dan 17 negara melalui program diplomasi kuliner sebagai salah satu strategi ampuh memperkenalkan kekayaan budaya serta produk kreatif Indonesia kepada dunia.

Ia juga mengajak seluruh komunitas Gekrafs untuk menjadikan momentum peringatan tersebut sebagai ruang untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial, termasuk menyempatkan diri mendoakan saudara-saudara yang sedang terdampak musibah bencana kebakaran hutan dan lahan di tanah air. Menurut Kawendra, seorang pejuang ekonomi kreatif tidak hanya dituntut untuk produktif menghasilkan karya estetis, tetapi juga harus memiliki kepedulian tinggi terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi bangsa.

Lebih jauh, ia menilai bahwa komitmen kuat pemerintah terhadap pengembangan sektor ekonomi kreatif saat ini telah membuka peluang yang sangat lebar bagi para pelaku usaha untuk terus berkembang. Dirinya menyoroti bagaimana sektor ekonomi dan industri kreatif telah ditempatkan ke dalam agenda prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam misi besar mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya, serta memperkuat industri dalam negeri.
 
Pelantikan dan pengukuhan pengurus Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) NTB <b>(Antara)</b> Pelantikan dan pengukuhan pengurus Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) NTB (Antara)

Dalam kesempatan tersebut, Kawendra juga mengabarkan bahwa pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran sebesar Rp10 triliun yang difokuskan untuk pembiayaan berbasis kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) guna mendongkrak pengembangan ekosistem ekonomi kreatif. Oleh karena itu, ia berpesan agar para pelaku usaha kreatif dapat memanfaatkan sebaik-baiknya dukungan kebijakan, regulasi, serta fasilitas pembiayaan yang telah disediakan agar karya mereka bertransformasi menjadi usaha yang bernilai ekonomi tinggi.

Di pengujung arahannya, Kawendra turut menekankan pentingnya penguatan empat agenda utama Gekrafs yang dikenal sebagai konsep "Empat L", yakni literasi ekonomi kreatif yang optimal dan membumi, lahirnya wirausaha-wirausaha baru, perluasan lapangan pekerjaan, serta menjaga kelestarian produk seni dan budaya.
 

Literasi ekonomi kreatif dianggap krusial agar masyarakat yang menghasilkan karya bernilai ekonomi benar-benar memahami bahwa mereka merupakan bagian penting dari ekosistem besar ekonomi kreatif. Sementara itu, penciptaan pengusaha baru dan perluasan lapangan kerja diharapkan mampu mendongkrak kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional. Di sisi lain, pelestarian seni dan budaya harus terus dijaga agar setiap inovasi pengembangan ekonomi kreatif tetap berpijak kuat pada akar identitas dan kekayaan lokal.

Kawendra berharap jajaran kepengurusan Gekrafs di NTB mampu menerjemahkan seluruh agenda besar tersebut ke dalam program kerja organisasi yang terukur, sekaligus sukses mengangkat potensi lokal menjadi produk unggulan yang memiliki daya saing tinggi di kancah nasional maupun internasional.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close