Ntvnews.id, Moskow - Otoritas Rusia menangkap seorang jurnalis asal Jepang di Pulau Sakhalin, wilayah timur jauh Rusia, atas dugaan melakukan spionase. Kasus ini berpotensi memperburuk hubungan Moskow dan Tokyo yang sebelumnya telah memanas akibat dukungan Jepang terhadap Ukraina serta sengketa wilayah Kepulauan Kuril.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengungkapkan bahwa jurnalis tersebut bernama Yuki Imai. Ia merupakan reporter surat kabar Hokkaido Shimbun yang bertugas di biro Yuzhno-Sakhalinsk, Pulau Sakhalin.
Zakharova menyebut Imai dituduh "melakukan kegiatan spionase di wilayah Rusia".
Dilansir dari TASS, Kamis, 15 Oktober 2026, melaporkan Imai ditangkap saat hendak kembali ke Jepang. Ia diduga mengumpulkan informasi mengenai kemampuan pertahanan Rusia untuk kemudian diserahkan kepada badan intelijen Jepang.
Badan Keamanan Federal Rusia (FSB) mengklaim jurnalis tersebut berencana memberikan informasi itu kepada pihak intelijen Jepang.
FSB juga merilis rekaman video yang memperlihatkan sejumlah petugas mengenakan penutup wajah memasuki kamar hotel dan menjatuhkan seorang pria ke lantai sebelum memborgolnya. Pria tersebut kemudian dibawa ke Moskow untuk menjalani proses hukum.
Pengadilan di Moskow memutuskan Imai harus menjalani penahanan sebelum persidangan. Meski demikian, pihak pengadilan tidak menjelaskan waktu pasti penangkapan maupun pelaksanaan sidang tersebut.
Berdasarkan laporan media Rusia, Imai akan ditahan hingga 12 Desember 2026. Jika dinyatakan bersalah atas tuduhan spionase, ia terancam hukuman penjara maksimal 20 tahun.
Baca Juga: Satpam Waduk Jatiluhur Ditemukan Tewas Terborgol, Polisi Periksa 11 Saksi
Pemerintah Jepang meminta otoritas Rusia menjamin perlakuan yang adil terhadap Imai. Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan Kedutaan Besar Jepang di Moskow dan Konsulat Jenderal Jepang di Yuzhno-Sakhalinsk telah meminta penjelasan segera dari pemerintah Rusia mengenai kasus tersebut.
Kedua perwakilan diplomatik itu juga meminta agar aspek kemanusiaan diperhatikan serta memastikan Imai mendapatkan perlakuan yang adil dan tidak memihak. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang menyampaikan hal tersebut kepada Agence France-Presse.
Sementara itu, surat kabar Hokkaido Shimbun menyatakan telah mengetahui pengumuman yang disampaikan otoritas Rusia. Namun, pihaknya masih berupaya memastikan rincian terkait penangkapan reporternya tersebut.
"Menjamin keselamatan jurnalis adalah prioritas utama kami, dan kami menanggapi hal tersebut sesuai dengan prioritas," demikian pernyataan surat kabar tersebut.
Zakharova menyayangkan dugaan tindakan Jepang yang dinilai memanfaatkan korespondennya di Rusia untuk memperoleh informasi yang berpotensi mengancam keamanan negara.
"Upaya Tokyo untuk menggunakan korespondennya di Rusia... untuk mengumpulkan informasi yang bertujuan untuk merusak keamanan negara kita sangat disayangkan," kata Zakharova, seperti dilaporkan The Guardian.
"Bukan kasus terisolasi," lanjutnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia telah menahan sejumlah warga negara asing dari negara-negara yang dianggapnya "tidak bersahabat". Moskow menuding sebagian dari mereka terlibat dalam aktivitas intelijen untuk negara-negara Barat.
Pada 2023, Rusia juga menangkap jurnalis Amerika Serikat, Evan Gershkovich, atas tuduhan spionase. Pengadilan Rusia menjatuhkan hukuman penjara selama 16 tahun kepadanya sebelum ia dibebaskan melalui pertukaran tahanan pada 2024.
Hubungan Moskow-Tokyo Memanas akibat Ukraina
Arsip - Foto suasana sekitar Kremlin di Moskow, Rusia, Kamis (10/3/2022). (ANTARA/Xinhua/Bai Xueqi/aa.) (Antara)
Hubungan Rusia dan Jepang mengalami kemunduran setelah Tokyo bergabung dengan negara-negara Barat menjatuhkan sanksi terhadap Moskow menyusul perang di Ukraina. Jepang juga terus memberikan dukungan kepada Kyiv sejak Rusia melancarkan invasi pada Februari 2022.
Selain konflik Ukraina, kedua negara masih berselisih mengenai status Kepulauan Kuril, yang oleh Jepang disebut sebagai Wilayah Utara.
Jepang mengklaim empat pulau yang terletak di dekat Hokkaido. Salah satu pulau yang disengketakan itu berjarak kurang dari empat kilometer dari wilayah Jepang.
Rusia menguasai Kepulauan Kuril sejak penghujung Perang Dunia II. Pasukan Uni Soviet merebut wilayah tersebut pada hari-hari terakhir perang, sehingga sekitar 17.000 warga Jepang terpaksa meninggalkan kepulauan itu.
Setelahnya, warga Rusia mulai menetap di wilayah tersebut dengan jumlah penduduk yang hampir menyamai populasi warga Jepang sebelumnya.
Pada 2022, Rusia menghentikan program yang memungkinkan mantan penduduk Jepang mengunjungi makam leluhur mereka di Kepulauan Kuril. Keputusan itu diambil sebagai bentuk protes terhadap dukungan Tokyo kepada Ukraina.
Ketegangan kedua negara kembali meningkat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi salah satu pulau yang disengketakan pada Agustus 2026. Kunjungan tersebut memicu reaksi dari pemerintah Jepang.
Tokyo menegaskan akan tetap mempertahankan sanksi terhadap Rusia sekaligus melanjutkan dukungannya kepada Ukraina di tengah konflik yang belum berakhir.
Ilustrasi di Borgol. (Antara)