Ntvnews.id, Kyiv - Korea Selatan (Korsel) memutuskan menarik Duta Besarnya dari Ukraina di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara kedua negara. Perselisihan ini dipicu oleh pengungkapan informasi mengenai pemindahan tawanan perang asal Korea Utara (Korut) ke Seoul.
Konflik diplomatik tersebut bermula setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan informasi tentang pemindahan tawanan Korut pada bulan lalu. Pemerintah Korsel memprotes pengungkapan itu karena menilai informasi tersebut dapat mengancam keselamatan keluarga para tawanan yang masih berada di Korut.
"Pemerintah telah memutuskan untuk memanggil pulang Duta Besarnya untuk Ukraina," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Korsel, seperti dilansir dari AFP, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Kementerian tersebut juga berharap persoalan yang belum terselesaikan dapat dituntaskan melalui jalur diplomasi. Seoul menyatakan tetap membuka komunikasi dengan Kyiv untuk mencapai penyelesaian damai.
"Pemerintah berharap seluruh masalah yang belum terselesaikan antara kedua negara dapat diselesaikan secara damai dan terus melakukan konsultasi dengan pihak Ukraina demi mencapai tujuan tersebut," imbuh pernyataan tersebut.
Menanggapi keputusan Seoul, Ukraina menekankan pentingnya menjaga hubungan diplomatik agar tidak dikuasai emosi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Georgiy Tykhy, mengatakan negaranya masih bersedia melanjutkan komunikasi dengan Korsel.
"Meskipun Seoul memutuskan untuk menarik Duta Besarnya, Ukraina tetap terbuka untuk memulihkan dialog yang konstruktif -- meskipun hal itu membutuhkan waktu," ujar Tykhy kepada wartawan.
Baca Juga: Geger Anggota Kartel Narkoba Diduga Gabung Tentara Bayaran Ukraina
Sebelum menarik duta besarnya, pemerintah Korsel telah memanggil Duta Besar Ukraina dan memperingatkan kemungkinan adanya "langkah-langkah lebih lanjut". Namun, Seoul tidak merinci tindakan lanjutan yang dimaksud.
Presiden Korsel Lee Jae Myung juga mendesak pemerintah Ukraina menyampaikan permintaan maaf resmi atas terbukanya informasi mengenai tawanan perang Korut. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga menilai persoalan tersebut sebagai "kesalahpahaman diplomatik".
Ketegangan ini muncul beberapa hari setelah pemberitaan media mengenai pengiriman lebih dari 176.000 ton bahan bakar dari Korsel ke Rusia sepanjang Juli dan Agustus lalu. Sebagian besar pasokan tersebut berupa solar. Pengiriman itu memunculkan tudingan bahwa Seoul turut membantu mengatasi kekurangan bahan bakar di Rusia.
Sejak Rusia melancarkan invasi ke Ukraina pada 2022, Korut diketahui mengirimkan pasukan untuk membantu Moskow dalam perang tersebut. Sebagai imbalannya, Pyongyang disebut memperoleh keuntungan ekonomi serta dukungan teknologi militer.
Badan intelijen Korsel sebelumnya memperkirakan sekitar 2.000 tentara Korut tewas dalam perang tersebut. Sementara itu, penilaian yang lebih baru memperkirakan jumlah personel Korut yang tewas atau terluka mencapai sekitar 6.000 orang.
Perselisihan ini turut mengancam peluang Ukraina memperoleh bantuan persenjataan dari Korsel. Hingga kini, Seoul belum mengirimkan senjata mematikan kepada Kyiv karena adanya pembatasan domestik terhadap pemberian bantuan militer kepada negara yang sedang berperang.
Arsip foto - Asap membubung ke langit di Kiev, Ukraina (27/2/2022). ANTARA/Xinhua/Lu Jinbo/aa. (Antara)