Ntvnews.id, New York - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta Rusia memberikan informasi secara terbuka terkait kematian seorang teknisi laboratorium di pusat penelitian penyakit pes di Siberia. Peristiwa tersebut menimbulkan kekhawatiran terkait kemungkinan wabah pes hingga menyebabkan ratusan orang menjalani karantina.
"Berbagi informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional sangatlah penting untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan, dan memungkinkan penilaian yang akurat mengenai potensi risiko kesehatan masyarakat," tegas Tedros dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir dari AFP, Kamis, 8 Oktober 2026.
Tedros juga menyatakan WHO siap memberikan bantuan teknis kepada pemerintah Rusia apabila dukungan tersebut dibutuhkan.
"WHO telah secara aktif menindaklanjuti laporan kematian seorang pekerja laboratorium di Institut Penelitian Anti-Pes Irkutsk," kata Tedros.
Baca Juga: Pemerintah Kaji Penyelesaian Utang Whoosh, Wamen Juda: Jangan Sampai Stop Beroperasi
Ia menjelaskan bahwa pekerja tersebut meninggal setelah menjalani perawatan akibat kondisi pneumonia yang parah.
"Individu tersebut meninggal dunia pada 2 Oktober 2026 setelah dirawat di rumah sakit akibat pneumonia parah. Laporan awal media mengindikasikan adanya kasus pes pneumonik yang diduga terjadi akibat paparan yang tidak disengaja di laboratorium," sebutnya.
Pes pneumonik merupakan bentuk penyakit pes yang paling berbahaya dan mudah menular. Penyakit tersebut dapat menyebar melalui sistem pernapasan dan, menurut WHO, berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan penanganan.
WHO sebelumnya telah menghubungi otoritas Rusia pada Sabtu, 3 Oktober 2026 untuk meminta informasi lebih lanjut mengenai situasi tersebut. Langkah itu dilakukan berdasarkan ketentuan Peraturan Kesehatan Internasional atau International Health Regulations (IHR).
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus (Antara)