WHO: Lebih dari 180.000 Warga Yaman Mengungsi, Sistem Kesehatan Makin Tertekan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Sep 2026, 13:32
thumbnail-author
Amanda Putri Utomo
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
anak-anak pengungsi akibat konflik di Yaman anak-anak pengungsi akibat konflik di Yaman

Ntvnews.id, Moskow - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 180.000 orang di Yaman terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat eskalasi konflik yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi tersebut semakin memperberat krisis kesehatan dan kemanusiaan yang telah lama membebani negara itu.
Direktur Kedaruratan WHO untuk Wilayah Mediterania Timur, Dr. Annette Heinzelmann, mengatakan jumlah tersebut berasal dari 10 wilayah yang terdampak konflik. Menurutnya, gelombang pengungsian terjadi seiring meningkatnya kekerasan di berbagai kawasan Yaman.

"Ini informasi yang kami terima, 180.000 orang dari 10 wilayah mengungsi," kata Direktur Kedaruratan Wilayah Mediterania Timur Dr. Annette Heinzelmann.

WHO menilai perpindahan penduduk dalam skala besar tersebut tidak hanya menimbulkan persoalan kemanusiaan, tetapi juga memberikan tekanan tambahan terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan.

Baca Juga: Hampir 147 Ribu Warga Mengungsi di Yaman Akibat Eskalasi Konflik

Sistem kesehatan Yaman yang sebelumnya sudah berada dalam kondisi rapuh kini harus menghadapi peningkatan kebutuhan layanan medis akibat konflik dan arus pengungsi.

Data Kementerian Kesehatan di Aden mencatat 4.481 korban sejak 6 Agustus, dengan lebih dari 830 orang di antaranya meninggal dunia. Angka tersebut menggambarkan besarnya dampak eskalasi kekerasan terhadap masyarakat sipil dan layanan kesehatan di wilayah terdampak.

Tekanan terhadap fasilitas kesehatan juga terlihat dari terhentinya sementara layanan neonatal dan obstetri darurat di dua rumah sakit di Marib dan Ras Al-Arah.

WHO menyebut tenaga serta kapasitas operasional rumah sakit harus dialihkan untuk menangani korban luka yang terus berdatangan.Jumlah warga yang mengungsi juga terus bertambah.

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) sebelumnya melaporkan pada Senin bahwa sekitar 145.000 orang telah meninggalkan rumah mereka akibat konflik yang berlangsung sejak Juni.

Dalam kurun satu pekan terakhir saja, sekitar 16.000 orang dilaporkan kembali mengungsi.Kondisi tersebut menambah tantangan bagi upaya penanganan kesehatan di Yaman.

Baca Juga: Trump Sebut Houthi Minta AS Tak Ikut Campur Konflik Yaman

WHO sebelumnya memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan telah meningkatkan jumlah korban dan pengungsi sekaligus memberikan tekanan lebih besar terhadap sistem kesehatan yang sudah berada di bawah beban berat.

Eskalasi konflik di Yaman meningkat sejak pertengahan tahun setelah pasukan pro-pemerintah menyerang Bandar Udara Sanaa ketika sebuah pesawat dari Iran yang membawa delegasi pemimpin Houthi tengah mendarat.

Houthi kemudian menuding Arab Saudi bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menyatakan perang terhadap Riyadh. Kelompok itu juga menyatakan akan terus melakukan perlawanan hingga blokade terhadap wilayah yang mereka kuasai dihentikan.

Dalam perkembangan terbaru, kelompok Houthi dilaporkan memperluas pengaruhnya di sejumlah kawasan barat dan barat daya Yaman, termasuk wilayah pesisir Laut Merah serta permukiman yang berada di sekitar Selat Bab al-Mandab.

WHO menegaskan bahwa peningkatan pengungsian dan korban akibat kekerasan berlangsung di tengah kondisi kesehatan Yaman yang sudah sangat rentan.

Organisasi tersebut mencatat jutaan warga Yaman masih membutuhkan bantuan kesehatan, sementara gangguan terhadap layanan dasar, fasilitas kesehatan, serta pasokan medis semakin meningkatkan risiko bagi masyarakat yang terdampak konflik.

(Sumber: ANTARA) 

x|close