Ntvnews.id, Kyiv - Sebuah bus di Kota Kramatorsk, Ukraina timur, diduga menjadi sasaran serangan rudal Rusia. Sedikitnya 30 orang dilaporkan meninggal dunia dalam insiden yang terjadi pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Serangan tersebut disebut sebagai salah satu aksi militer paling mematikan terhadap warga sipil Ukraina sepanjang tahun ini. Kantor Kejaksaan wilayah Donetsk menyebut kendaraan itu terkena bom udara sekitar pukul 10.00 waktu setempat.
"Saat ini, jumlah korban tewas akibat serangan pagi tadi telah meningkat menjadi 30 orang. Delapan belas orang terluka," demikian pernyataan Kantor Kejaksaan wilayah Donetsk, dikutip dari Guardian, Jumat, 9 Oktober 2026.
Setelah kejadian, seluruh layanan transportasi umum di wilayah tersebut dihentikan. Foto yang dirilis kepolisian menunjukkan sejumlah jenazah berada di antara puing-puing jalan, sementara bangkai kendaraan yang diduga merupakan bus tampak hangus terbakar.
Pejabat setempat mengatakan sebuah bus lainnya juga terbakar. Lokasi serangan berada di sekitar sebuah klinik gigi di Jalan Yuvileina, Kramatorsk. Selain korban dari serangan terhadap bus, tiga orang dilaporkan meninggal akibat serangan artileri di Desa Bilenke, yang berada di sekitar Kramatorsk.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuding Kremlin sengaja menjadikan "halte transportasi umum biasa" sebagai target dalam kampanye yang disebutnya "kejam".
Peristiwa tersebut terjadi sehari setelah serangan Rusia menghantam sebuah gedung apartemen lima lantai di Pryluky, wilayah Chernihiv, Ukraina utara. Bangunan itu roboh dan menimpa orang-orang yang berada di dalamnya.
Sedikitnya 22 orang tewas dalam serangan tersebut, termasuk lima anak berusia antara satu hingga delapan tahun.
Zelensky kemudian meminta negara-negara Barat memberikan "langkah konkret" untuk membantu memperkuat sistem pertahanan udara Ukraina yang semakin terbatas. Desakan itu disampaikan ketika serangan Rusia menggunakan rudal balistik dan drone bermesin jet terus berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
"Pasokan kemampuan anti-rudal balistik, amunisi untuk pesawat tempur kami, dan investasi pada rudal pencegat—semua ini secara langsung membantu menyelamatkan nyawa setiap harinya. Pembicaraan penting dengan mitra-mitra kami akan berlangsung hari ini dan besok," tambah Zelensky.
Baca Juga: Rusia Minta Diplomat Asing Tinggalkan Ibu Kota Ukraina
Kramatorsk bersama kota di dekatnya, Sloviansk, termasuk dalam wilayah yang dikenal sebagai "sabuk benteng". Kedua kota itu menjadi pusat perkotaan besar terakhir di bagian utara Donetsk yang masih sepenuhnya berada di bawah kendali militer Ukraina.
Rusia telah berusaha menguasai kedua kota tersebut selama lebih dari satu dekade. Sloviansk sendiri pernah berada di bawah pendudukan Rusia dalam waktu singkat pada 2014.
Saat ini, ribuan warga sipil dan tentara Ukraina masih berada di kawasan tersebut. Sejumlah ruas jalan dalam beberapa bulan terakhir dipasangi jaring sebagai perlindungan terhadap serangan drone. Namun, sistem tersebut dinilai tidak banyak membantu menghadapi serangan bom udara.
"Ini bukan sekadar 'konsekuensi perang' ataupun statistik semata. Ini adalah orang-orang yang tewas akibat ulah tentara Rusia," ujar Gubernur wilayah Donetsk, Vadym Filashkin, melalui Telegram setelah serangan Rabu.
"Rusia datang ke tanah Ukraina membawa kematian. Pihak Rusia sengaja menargetkan warga sipil. Bagi mereka, bus yang penuh penumpang merupakan sasaran empuk justru karena satu serangan saja dapat menewaskan sebanyak mungkin orang,” ucap Filashkin.
"Rusia secara sengaja melanggar segala aturan perang yang ada serta norma-norma hukum humaniter internasional. Mereka memilih sasaran yang dapat menimbulkan penderitaan terbesar bagi warga sipil,” imbuh Filashkin.
Di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin tetap menuntut Ukraina menyerahkan wilayah Donbas bagian timur yang masih dikuasai Kyiv. Pemerintah Ukraina menolak tuntutan tersebut karena menilai setiap konsesi wilayah berpotensi dimanfaatkan Rusia untuk kembali memperluas pertempuran.
Operasi pencarian dan penyelamatan sedang berlangsung di lokasi-lokasi yang rusak akibat serangan Rusia—termasuk sebuah gedung apartemen bertingkat dan beberapa rumah pribadi di distrik Darnytskyi, Kyiv, Ukraina—pada 2 Juli 2026. Serangan tersebut me (Antara)