Saudi Hancurkan 82 Target Houthi di Yaman, Balasan atas Serangan 2 Bandara

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Okt 2026, 10:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Asap mengepul setelah serangan udara di Bandara Internasional Sanaa di Sanaa, Yaman, pada 13 Juli 2026. Televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi, Senin, 13 Juli 2026, mengatakan Arab Saudi melancarkan serangan udara di landasan pacu Bandara Internasi Asap mengepul setelah serangan udara di Bandara Internasional Sanaa di Sanaa, Yaman, pada 13 Juli 2026. Televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi, Senin, 13 Juli 2026, mengatakan Arab Saudi melancarkan serangan udara di landasan pacu Bandara Internasi (Antara)

Ntvnews.id, Riyadh - Koalisi yang dipimpin Arab Saudi melancarkan operasi komprehensif terhadap sejumlah lokasi militer kelompok Houthi di Yaman. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangkaian serangan terbaru yang menyasar fasilitas sipil di Arab Saudi, termasuk dua bandara.

Juru bicara koalisi Saudi, Mayor Jenderal Turki Al Maliki, menyampaikan melalui X pada Kamis, 8 Oktober 2026 bahwa pihaknya telah menghancurkan 82 target di wilayah Saada, Hodeidah, Al Jawf, dan Marib.

Target yang dihantam meliputi 11 lokasi penyimpanan rudal balistik di kawasan pegunungan Saada. Selain itu, serangan juga menyasar pusat komando dan kendali, sistem komunikasi, depot rudal dan persenjataan, serta lokasi berkumpul milik Houthi.

Dilansir dari Al Jazeera, Kamis, 8 Oktober 2026, Al Maliki mengatakan operasi tersebut dilakukan setelah Houthi melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya Arab Saudi.

Ia menegaskan serangan terhadap fasilitas sipil "tidak akan dibiarkan tanpa hukuman."

Koalisi Saudi juga mengklaim telah menghancurkan platform peluncur rudal balistik Houthi yang digunakan untuk menyerang kedua bandara tersebut.

"Operasi penghancuran berlangsung di Ibu Kota Yaman, Sanaa, saat musuh melakukan serangkaian serangan terhadap Kerajaan," ucap juru bicara koalisi Saudi, Kolonel Turki Al Maliki, di X.

Baca Juga: Inggris Siapkan Dukungan Militer untuk Saudi Hadapi Houthi

Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi meningkat di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran yang masih berlangsung sejak Februari lalu.

Sebelumnya, Houthi melancarkan serangan udara secara terpisah ke Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Selasa, 6 Oktober 2026 dan Rabu, 7 Oktober 2026. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan tiga orang dan menyebabkan lebih dari 30 orang lainnya terluka.

Meningkatnya serangan Houthi juga membuat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan meminta bantuan Amerika Serikat untuk menghadapi kelompok tersebut.

MbS disebut telah dua kali berkomunikasi langsung dengan Presiden AS Donald Trump guna meminta dukungan militer dalam menghadapi serangan Houthi.

Menteri Pertahanan Arab Saudi Khalid bin Salman juga disebut mengupayakan bantuan Washington melalui Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Khalid meminta AS melakukan serangan militer untuk membantu melindungi Saudi dari serangan Houthi.

Namun, permintaan tersebut dilaporkan tidak mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.

Menurut sumber Al Jazeera, sikap Washington tersebut berkaitan dengan kebijakan pemerintahan Trump yang saat ini memprioritaskan konflik dengan Iran.

Sejauh ini, dukungan AS kepada Arab Saudi disebut masih terbatas pada bantuan yang bersifat terarah serta dukungan intelijen.

Arab Saudi sendiri merupakan salah satu mitra dekat Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

x|close