Ntvnews.id, Jakarta - Perdana Menteri Inggris Andy Burnham disebut telah menyetujui dukungan militer bagi Arab Saudi untuk menghadapi serangan milisi Houthi dari Yaman.
"Pesawat-pesawat Inggris akan menyediakan layanan pengisian bahan bakar di udara yang bersifat 'defensif' bagi jet-jet Saudi," kata PM Burnham kepada wartawan dalam perjalanan menuju Sidang Umum PBB di New York.
Menurut laporan kantor berita PA, dilansir Rabu, 23 September 2026, dukungan Inggris tersebut hanya diperuntukkan bagi pesawat-pesawat Saudi yang bertugas mempertahankan wilayahnya dari serangan drone dan rudal. Misi itu tidak ditujukan untuk membantu serangan terhadap Houthi.
Penggunaan pesawat tanker Voyager untuk misi pengisian bahan bakar diperkirakan dimulai dalam beberapa hari ke depan. Operasi tersebut juga bersifat sementara dan diperkirakan berlangsung selama beberapa pekan.
Dukungan pengisian bahan bakar ini menjadi tambahan bagi sistem pertahanan udara Sky Sabre milik Inggris yang sebelumnya telah ditempatkan di Arab Saudi.
Burnham menyatakan langkah tersebut dilakukan untuk melindungi kepentingan Inggris sekaligus menjaga keamanan kawasan yang lebih luas. Menurutnya, "Arab Saudi telah mengalami serangan dan menghadapi potensi gangguan lebih lanjut".
Baca Juga: Trump Klaim Houthi Tak Ingin Perang dengan AS di Tengah Serangan ke Saudi
"Kita perlu menjaga jalur tersebut tetap terbuka, dan oleh karena itulah kita menyetujui permintaan tersebut," demikian laporan itu, seperti dikutip AFP.
Tidak hanya Inggris, Prancis juga menyatakan kesediaannya untuk "mengamankan" infrastruktur energi Arab Saudi yang menjadi sasaran serangan Houthi.
"Prancis siap berkontribusi dalam mengamankan infrastruktur energi Saudi di Yanbu dan di sepanjang East-West Pipeline, dalam kerangka pendekatan yang murni bersifat defensif. Hal ini sama sekali tidak melibatkan partisipasi dalam konflik melawan Houthi," ujar seorang sumber diplomatik Prancis.
Houthi sebelumnya melancarkan serangan terhadap fasilitas perusahaan minyak Saudi Aramco di kota pelabuhan Yanbu, Laut Merah. Selain itu, jalur pipa minyak East-West Pipeline ditutup setelah serangan drone yang disebut diluncurkan dari Irak.
Sebelumnya, Kepala Badan Pemerintahan Yaman Rashad Al Alimi disebut telah menghubungi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta dukungan Washington dalam menghadapi Houthi.
Sumber dari kantor Alimi mengatakan Trump tidak memberikan janji bantuan militer kepada Yaman. Permintaan tersebut disampaikan setelah Houthi melancarkan serangan ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, pada Sabtu, 19 September 2026.
Pembicaraan telepon yang berlangsung pada Minggu, 20 September 2026 tersebut disebut sebagai bentuk solidaritas terhadap pemerintah Yaman yang berada dalam tekanan setelah Houthi menguasai seluruh kawasan pesisir Laut Merah dalam sebuah serangan.
Arsip - Kelompok Houthi menggelar unjuk rasa menentang serangan AS dan Israel terhadap Iran saat mereka berkumpul di Al Sabeen Square, Sanaa (Antara)