Ntvnews.id, Gaza - Hujan badai yang melanda Jalur Gaza, Palestina, memicu banjir besar hingga merendam sekitar 70 ribu tenda pengungsian. Menghadapi situasi tersebut, otoritas pertahanan sipil Gaza menetapkan status darurat tertinggi di seluruh wilayah.
Dilansir dari Xinhua, Senin, 9 November 2026, ketinggian air di sejumlah kawasan permukiman dilaporkan mencapai 1,5 meter. Kondisi ini semakin menyulitkan kehidupan warga Palestina yang sebelumnya telah kehilangan tempat tinggal akibat perang.
Sejak badai mulai menerjang, pusat operasi pertahanan sipil Gaza menerima sebanyak 2.166 panggilan darurat dari masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Namun, keterbatasan personel dan fasilitas membuat tim penyelamat hanya mampu merespons 218 laporan. Banyaknya permintaan bantuan tidak sebanding dengan kapasitas sumber daya yang tersedia.
Otoritas pertahanan sipil kemudian meminta masyarakat internasional memberikan tekanan kepada Israel agar membuka akses masuk bagi berbagai kebutuhan penanganan bencana.
Baca Juga: Eks Juru Bicara Militer Israel Bongkar Manipulasi Informasi soal Perang Gaza
Bantuan yang dibutuhkan mencakup peralatan dan kendaraan khusus penyelamatan, tenda, terpal plastik, hingga unit hunian bergerak untuk menyediakan tempat berlindung sementara bagi keluarga pengungsi.
Dalam laporan terpisah, kantor media yang dikelola Hamas menyebut puluhan dinding bangunan di berbagai wilayah Gaza roboh akibat terjangan badai. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah warga mengalami luka-luka serius.
Kerugian ekonomi akibat bencana tersebut juga diperkirakan cukup besar. Berdasarkan perhitungan awal, nilai kerusakan langsung yang ditimbulkan badai mencapai sekitar USD 3 juta.
Sementara itu, Menteri Kesehatan Palestina Majid Abu Ramadan memperingatkan bahwa penurunan suhu udara yang semakin ekstrem serta rangkaian badai berpotensi memperburuk kondisi kemanusiaan di Gaza.
Ancaman tersebut semakin mengkhawatirkan karena sebagian besar keluarga pengungsi telah kehilangan kemampuan untuk bertahan menghadapi cuaca buruk. Banyak di antara mereka bahkan tidak lagi memiliki perlengkapan perlindungan dasar untuk menghadapi hujan dan suhu dingin.
Bagi warga Gaza yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah perang, bencana banjir ini kembali menambah penderitaan. Tanpa tempat berlindung yang memadai dan bantuan darurat, keselamatan ribuan keluarga pengungsi kini semakin terancam.
Warga Palestina mencari barang-barang di antara puing-puing rumah milik keluarga Karnawi setelah serangan Israel di Kamp Pengungsi Bureij, Jalur Gaza bagian tengah, Palestina, Kamis, 29 Oktober 2026. (Antara)