Ntvnews.id, Gaza - Mantan anggota unit juru bicara militer Israel, Ayelet Kroizer, mengungkapkan pernah memanipulasi informasi yang disampaikan kepada media selama berlangsungnya perang di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Kroizer mengaku bahwa warga Palestina yang tidak bersalah kerap dicap sebagai "teroris". Ia juga menyebut pernyataan resmi militer Israel disusun dengan mempertimbangkan karakteristik audiens untuk memengaruhi opini publik dalam negeri sekaligus mendapatkan legitimasi di tingkat internasional.
Pengakuan tersebut disampaikan Kroizer melalui akun X saat mengumumkan dirinya bergabung sebagai juru bicara Breaking the Silence. Organisasi asal Israel itu menghimpun dan mendokumentasikan kesaksian para veteran militer terkait dugaan pelanggaran yang terjadi di wilayah pendudukan.
"Selama bertugas, saya memanipulasi informasi yang disampaikan kepada media. Saya melihat bagaimana kata 'teroris' disematkan bahkan kepada warga Palestina yang tidak bersalah, serta bagaimana pernyataan disesuaikan dengan sasaran audiens dan tujuan yang telah ditetapkan," tulis Kroizer, dikutip TRT World, Rabu, 4 November 2026.
Baca Juga: Netanyahu Cari Negara yang Bersedia Menampung Warga Palestina dari Gaza
Kroizer menuturkan, pengalamannya ketika bertugas memberikan gambaran mengenai kondisi di lapangan sekaligus cara militer Israel mengemas dan menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Ia berpandangan unit juru bicara militer lebih menyerupai perusahaan hubungan masyarakat atau public relations (PR) dibandingkan lembaga publik yang mengedepankan transparansi informasi.
Menurutnya, penyampaian informasi kepada masyarakat Israel diarahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap angkatan bersenjata. Sementara itu, keterbukaan mengenai fakta yang sebenarnya justru tidak menjadi perhatian utama.
Adapun informasi yang ditujukan kepada masyarakat internasional dimanfaatkan untuk membangun citra dan memperoleh legitimasi global. Kroizer menilai, dalam kedua pendekatan tersebut, kebenaran justru dikorbankan demi kepentingan komunikasi militer.
Ia turut mengungkapkan kebiasaan dalam penyampaian informasi terkait serangan militer yang menimbulkan banyak korban jiwa. Setiap pengumuman mengenai jatuhnya korban biasanya diikuti pernyataan standar bahwa militer menyesalkan kematian warga sipil yang tidak terlibat dalam pertempuran.
"Saya belajar bagaimana melaporkan puluhan kematian dalam satu serangan dan secara otomatis menambahkan bahwa kami menyesalkan jatuhnya korban dari kalangan orang-orang yang tidak terlibat," tulisnya.
"Itulah rutinitas selama saya bertugas. Saya tidak pernah pandai untuk diam ketika menghadapi ketidakadilan, tetapi di sini saya diminta melakukan PR untuk ketidakadilan itu," lanjutnya.
Kroizer diketahui tumbuh di lingkungan komunitas ultra-Ortodoks. Tiga tahun lalu, ia memutuskan melepaskan pengecualian wajib militer untuk bergabung dengan angkatan bersenjata Israel selama perang. Ketika itu, ia meyakini keputusannya merupakan bentuk pembelaan terhadap negara.
Namun, pandangannya kini berubah. Ia mengajak para mantan personel militer yang pernah terlibat dalam perang untuk berani menyuarakan pengalaman mereka dan tidak memilih bungkam.
"Jika kalian bertugas selama perang, jangan diam juga," tulis Kroizer.
Sejak Oktober 2023, serangan militer Israel di Jalur Gaza dilaporkan telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan menyebabkan lebih dari 175.000 orang lainnya mengalami luka-luka. Selain korban jiwa, sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut juga dilaporkan mengalami kehancuran.
Seorang anak berada di antara puing bangunan akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Palestina, Kamis, 30 Juli 2026 (Antara)