Partisipasi Warga Palestina dalam Pemilu Israel Diprediksi Tembus 70 Persen

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Okt 2026, 09:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Pemilu Israel Pemilu Israel (Istimewa)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Partisipasi warga Palestina yang memiliki kewarganegaraan Israel dalam pemilihan umum (pemilu) Israel pada Selasa, 27 Oktober 2026, diperkirakan mengalami peningkatan signifikan dibandingkan pemilu sebelumnya.

Dilansir dari Middle East Eye, Rabu, 28 Oktober 2026, Dua hasil jajak pendapat terbaru memproyeksikan tingkat partisipasi pemilih Palestina berada di kisaran 64 hingga 68 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan partisipasi pada pemilu 2022 yang tercatat sebesar 54 persen.

Warga Palestina diketahui berjumlah sekitar 2,1 juta jiwa atau mencakup 20 persen dari keseluruhan populasi Israel.

Analis dari lembaga kajian Van Leer Institute Israel, Ameer Fakhoury, memperkirakan tingkat partisipasi pemilih Palestina dalam pemilu kali ini berpotensi melampaui 70 persen.

"Ada harapan yang tulus, dan tampaknya ekspektasi yang beralasan, bahwa tingkat partisipasi pemilih dapat mendekati 70 persen, atau bahkan melebihinya," kata Fakhoury kepada Middle East Eye.

Baca Juga: Trump Tuduh Pemilu Brasil Penuh Kecurangan

Fakhoury mengungkapkan, informasi yang diterimanya menunjukkan partisipasi pemilih Palestina telah mencapai sekitar 69 persen. Meski demikian, angka tersebut belum diumumkan kepada publik karena dikhawatirkan dapat membuat sebagian pemilih merasa telah cukup berkontribusi sehingga mengurangi motivasi mereka untuk datang ke TPS.

Pada pemilu 2020, koalisi partai yang mewakili warga Palestina, Joint List atau Daftar Gabungan, berhasil meraih 15 kursi di parlemen Israel, Knesset. Namun, tingkat partisipasi pemilih Palestina kemudian merosot menjadi 54 persen pada pemilu 2022.

Menurut Fakhoury, meningkatnya antusiasme warga Palestina untuk menggunakan hak pilih kali ini tidak terlepas dari perubahan lanskap politik Israel dalam beberapa tahun terakhir. Perang di Jalur Gaza serta meningkatnya tekanan terhadap masyarakat Palestina turut memengaruhi situasi tersebut.

"Saya percaya orang-orang secara naluriah memahami bahwa Israel yang mereka kenal dulu telah berubah," ujarnya.

Fakhoury menilai pemilu kali ini menjadi momentum penting bagi warga Palestina untuk menjaga sekaligus memperkuat pengaruh mereka dalam politik Israel.

Tingginya partisipasi pemilih dinilai dapat meningkatkan posisi tawar partai-partai Arab, termasuk Joint List dan Raam, dalam memengaruhi arah politik Israel ke depan.

Meski demikian, Fakhoury mengingatkan bahwa peningkatan jumlah pemilih tidak serta-merta menjamin penguatan pengaruh politik. Partai-partai yang mewakili warga Palestina juga perlu memperbarui strategi agar sesuai dengan perubahan kondisi politik sejak Perjanjian Oslo pada 1993.

Ia menjelaskan, dinamika politik yang sebelumnya menjadi landasan pembentukan strategi, aliansi, dan pendekatan politik Palestina telah mengalami perubahan mendasar. Oleh sebab itu, partai-partai tersebut perlu meninjau kembali strategi perjuangan mereka agar tetap relevan dan mampu memperjuangkan kepentingan masyarakat Palestina di tengah situasi yang terus berkembang.

x|close