Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat penelitian dan pengembangan vaksin malaria. Permintaan tersebut disampaikan saat Kepala BRIN Arif Satria bertemu Presiden untuk melaporkan perkembangan sejumlah penugasan riset.
"Pak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat," ucap Arif setelah menemui Presiden untuk melaporkan sejumlah penugasan riset ke Prabowo.
Arif mengatakan BRIN saat ini tengah mengembangkan empat kandidat vaksin malaria. Sementara itu, secara nasional terdapat sekitar lima hingga enam kandidat vaksin malaria yang sedang diteliti.
Pengembangan vaksin tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Kesehatan dan Bio Farma. Arif berharap dukungan pemerintah dapat mempercepat penyelesaian riset vaksin hingga tiga tahun lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan.
"Beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria," ungkap Arif.
Baca Juga: Ketua Parlemen Iran Pastikan Kondisi Kesehatan Khamenei Baik-baik Saja
Ia menjelaskan, parasit penyebab malaria di Indonesia memiliki karakteristik yang beragam. Salah satu contohnya adalah Plasmodium vivax, yang hingga kini belum memiliki vaksin.
Arif menilai, kemampuan Indonesia memproduksi vaksin malaria secara mandiri tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat dalam negeri, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi bagi negara lain.
"Jadi kalau kita bisa produksi di Indonesia, ini bisa menjadi salah satu kontribusi Indonesia untuk dunia," tutur Arif.
Menurut Arif, Presiden juga menekankan pentingnya kontribusi Indonesia bagi masyarakat global. Percepatan pengembangan vaksin malaria diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dunia.
Selain riset vaksin malaria, Arif turut melaporkan perkembangan sejumlah penelitian BRIN lainnya kepada Presiden. Penelitian tersebut mencakup penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemanfaatan limbah sawit untuk menghasilkan biogas, pengembangan obat herbal, serta pengelolaan sampah.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria (NTVnews)