Ntvnews.id, Herbron - Pasukan Israel dilaporkan mengambil alih sejumlah rumah milik warga Palestina di Kota Hebron, Tepi Barat yang diduduki. Bangunan-bangunan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai barak militer dan pos pengamatan setelah penghuninya dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.
Mengutip laporan kantor berita resmi Palestina WAFA yang bersumber dari sejumlah pihak, pengambilalihan rumah terjadi di kawasan Khallat Manna dan Dahiyat al-Zaytoun, Hebron bagian selatan. Tindakan tersebut berlangsung pada hari kedua operasi militer Israel di wilayah Tepi Barat selatan.
“Pasukan Israel memaksa warga meninggalkan rumah di lingkungan lain dan menggunakan bangunan tersebut sebagai pos pengamatan,” kata sumber tersebut, dikutip dari Anadolu, Senin, 26 Oktober 2026.
Pengusiran warga itu terjadi setelah ratusan keluarga dipindahkan secara paksa sejak Jumat, 23 Oktober 2026 Situasi tersebut berlangsung di tengah operasi penggerebekan berskala besar, penutupan sejumlah jalan, serta pembatasan ketat terhadap mobilitas penduduk setempat.
Di wilayah sekitar Bethlehem, pasukan Israel juga dilaporkan menutup jalan-jalan tanah yang mengarah ke Kota Tuqu.
Baca Juga: 500 Mantan Pejabat Eropa Desak UE Sanksi Permukiman Israel di Tepi Barat
WAFA, dengan mengutip sumber keamanan Palestina, melaporkan bahwa tentara Israel menembakkan gas air mata dan granat kejut ke arah kendaraan warga Palestina yang melintas melalui jalur alternatif yang belum beraspal.
Penutupan akses jalan di Bethlehem dan sejumlah kota serta desa di sekitarnya membuat warga terpaksa menggunakan jalan tanah untuk melakukan perjalanan antarkawasan.
Sementara itu, akses menuju Hebron dan Halhul ditutup oleh pasukan Israel pada Jumat setelah dua warga Palestina menyerang sebuah pos pemeriksaan militer Israel.
Berdasarkan keterangan pihak Israel, serangan tersebut menewaskan dua tentara dan melukai tiga lainnya. Pasukan Israel kemudian membunuh kedua orang yang dituding sebagai pelaku penyerangan.
Militer Israel menyatakan operasi di wilayah tersebut dapat berlangsung selama beberapa hari. Kegiatan militer itu meliputi penggeledahan rumah, interogasi terhadap warga, serta pencarian senjata dan apa yang disebut militer sebagai “infrastruktur teroris”.
Anggota pasukan Israel terlihat selama operasi militer di Ramallah, Tepi Barat tengah, 16 September 2025. (ANTARA/Ayman Nobani/Xinhua.) (Antara)
Wilayah Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, mengalami peningkatan operasi militer Israel dan kekerasan yang dilakukan pemukim Israel sejak perang di Jalur Gaza dimulai pada Oktober 2023.
Berbagai tindakan yang dilaporkan terjadi meliputi pembunuhan dan penahanan warga Palestina, penghancuran rumah serta bangunan lainnya, pembakaran masjid dan kendaraan, hingga perusakan lahan pertanian menggunakan buldoser.
Selain menghadapi kekerasan dan kerusakan tempat tinggal, warga Palestina juga mengalami pembatasan akses ke lahan pertanian serta pengusiran komunitas dari tempat tinggal mereka.
Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan perluasan permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki, yang dinilai ilegal menurut hukum internasional.
Arsip - Ekskavator Israel membongkar rumah warga Palestina di desa Deirat, timur Masafer Yatta, di kota Hebron, Tepi Barat selatan Senin, 4 Mei 2026. (Antara)