Demo Protes Biaya Hidup di Prancis Berujung Ricuh, Hampir 1.000 Orang Ditangkap

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 26 Okt 2026, 10:35
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tim Redaksi
Editor
Bagikan
Polisi terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa dalam demonstrasi memprotes kenaikan biaya hidup, tingginya harga bahan bakar, serta kondisi dana pendidikan di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). Polisi terlibat bentrokan dengan para pengunjuk rasa dalam demonstrasi memprotes kenaikan biaya hidup, tingginya harga bahan bakar, serta kondisi dana pendidikan di Paris, Prancis, Minggu (18/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Paris - Hampir 1.000 orang ditangkap dalam demonstrasi di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Aksi tersebut digelar untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan memburuknya standar pendidikan, tetapi di sejumlah lokasi berujung pada kerusuhan.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyatakan jumlah penangkapan masih dapat bertambah. Ia menilai demonstrasi secara umum berjalan sesuai perkiraan, meskipun sejumlah kelompok memisahkan diri dari barisan massa dan melakukan perusakan serta menyerang aparat keamanan.

“Petugas penegak hukum secara sistematis melakukan intervensi untuk merespons tindakan tersebut, yang jumlahnya cukup banyak, termasuk pelemparan benda dan penembakan mortir,” kata Nunez, dikutip dari Anadolu, Senin, 26 Oktober 2026.

Jumlah penangkapan dalam aksi kali ini jauh melampaui demonstrasi pada akhir pekan sebelumnya. Pada periode yang sama, aparat menangkap 385 orang.

Baca Juga: Macron Kritik Trump hingga Netanyahu yang Komentari Demo Prancis

Ilustrasi aksi unjuk rasa di Prancis <b>(Antara)</b> Ilustrasi aksi unjuk rasa di Prancis (Antara)

Nunez mengatakan sejumlah toko di pusat kota telah mendapatkan perlindungan dari aparat. Meski demikian, penjarahan masih terjadi di beberapa kota. Ia menilai situasi tersebut relatif lebih terkendali dibandingkan demonstrasi pekan lalu.

Polisi juga menyita banyak benda yang diduga dapat digunakan sebagai senjata. Nunez mengapresiasi langkah pengamanan yang dilakukan aparat dalam mengendalikan situasi.

Dalam rangkaian demonstrasi tersebut, dua orang dilaporkan mengalami luka serius. Insiden itu terjadi masing-masing di Clermont-Ferrand dan Toulouse.

Nunez Tegaskan Polisi Bertindak Proporsional

Nunez membela langkah kepolisian dalam menangani demonstrasi. Ia menegaskan bahwa aparat telah bertindak secara proporsional dan membantah tudingan bahwa pemerintah melakukan represi terhadap gerakan protes.

“Tanpa polisi, tidak akan ada demonstrasi,” ujar Nunez, seraya menyoroti tingginya tingkat agresi yang dihadapi petugas keamanan selama aksi berlangsung.

demonstrasi di Prancis/Antara demonstrasi di Prancis/Antara

Merujuk laporan otoritas di Kota Tours, Nunez menyebut sekitar 5.000 orang mengikuti demonstrasi di wilayah tersebut. Di antara mereka, aparat mengidentifikasi hingga 800 orang bertopeng yang diduga berusaha menyembunyikan identitas sebelum melakukan perusakan.

Ia turut menyoroti kejadian di Nice, ketika sekelompok orang dari kelompok sayap kanan dilaporkan berusaha melindungi sejumlah tempat usaha sebelum akhirnya dibubarkan polisi. Nunez menyebut peristiwa tersebut sebagai kejadian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Menurut Nunez, tindakan cepat aparat membuat tidak ada gedung publik yang menjadi sasaran serangan dalam demonstrasi kali ini.

Ia kemudian membandingkan situasi tersebut dengan aksi protes pada 17 Oktober. Saat itu, sejumlah fasilitas publik dilaporkan mengalami kerusakan, termasuk balai kota di Limoges dan Marseille serta kantor pariwisata di Lyon.

x|close