Ntvnews.id, Islamabad - Panglima militer Pakistan Asim Munir meminta Iran menggunakan pengaruhnya untuk mendorong kelompok Houthi di Yaman menghentikan serangan terhadap fasilitas energi milik Arab Saudi.
Dilansir dari Anadolu, Jumat, 18 September 2026, sumber pemerintah Pakistan mengatakan, Munir telah melakukan pembicaraan melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam komunikasi tersebut, Munir meminta Teheran memanfaatkan pengaruhnya untuk mencegah Houthi menyerang infrastruktur minyak serta sektor ekonomi Arab Saudi.
Pembicaraan tersebut berlangsung ketika Araghchi tengah melakukan kunjungan ke China pada Rabu, 16 September 2026. Media pemerintah Iran turut mengonfirmasi kunjungan sang menteri.
"Pejabat tinggi militer tersebut membahas situasi regional secara keseluruhan, dengan fokus khusus pada serangan Houthi dan upaya menghidupkan kembali pembicaraan langsung yang sempat terhenti antara AS dan Iran," ujar sumber yang mengetahui perkembangan situasi tersebut, dikutip dari Anadolu.
Pemerintah Pakistan sebelumnya telah menyampaikan peringatan bahwa eskalasi konflik terbaru berpotensi membuat kondisi kawasan yang sudah kompleks menjadi semakin sulit.
Respons Araghchi dalam pembicaraan tersebut disebut oleh sumber sebagai sesuatu yang "memberikan harapan". Namun, tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai bentuk respons maupun langkah yang akan diambil Iran.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah Iran tidak mencampuri persoalan yang terjadi di Yaman.
Ia juga menyatakan kelompok Houthi merupakan pihak yang berdiri sendiri dan "mengejar kepentingan mereka sendiri."
Pembicaraan antara Pakistan dan Iran tersebut dilakukan sehari setelah sebuah pesawat nirawak yang diduga milik Houthi dan berasal dari Saudi dicegat di sekitar kota suci Mekkah. Insiden itu memicu reaksi keras dari masyarakat internasional, termasuk sejumlah negara Muslim.
Baca Juga: Pakistan Pertimbangkan Serangan Udara ke Houthi Yaman
Houthi sendiri membantah telah meluncurkan drone yang dicegat di kawasan tersebut.
Hubungan pertahanan Pakistan dan Arab Saudi sendiri semakin erat. Kedua negara menandatangani pakta pertahanan bilateral pada tahun lalu. Kesepakatan tersebut kemudian berlanjut melalui penandatanganan perjanjian pertahanan trilateral Pakta Mekkah pada bulan lalu yang turut melibatkan Turki.
Konflik di Yaman telah berlangsung sejak kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa pada 2014. Situasi tersebut kemudian mendorong koalisi Arab yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Houthi kembali terlibat dalam pertempuran dengan pasukan pemerintah sejak Juli, setelah kelompok tersebut mengumumkan blokade maritim terhadap Riyadh. Dalam perkembangan terakhir, Houthi mengklaim telah memperoleh kemajuan di sejumlah wilayah sepanjang pesisir Laut Merah dan kawasan Selat Bab Al Mandab.
Kelompok tersebut juga diketahui menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan terhadap infrastruktur energi tersebut turut menjadi salah satu faktor yang berdampak terhadap pergerakan harga minyak di pasar internasional.
Ilustrasi - Bendera Pakistan diantara bendera Amerika Serikat dan Iran. Pakistan pada hari Kamis (30/7/2026) menyatakan sedang berupaya (Antara)