Ntvnews.id, Taheran - Satelit mata-mata milik Rusia diduga memberikan data intelijen kepada Iran yang membantu meningkatkan ketepatan serangan terhadap sejumlah aset militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah.
Dugaan tersebut mencuat ketika ketegangan antara Teheran dan Washington kembali meningkat. Dalam beberapa waktu terakhir, Iran dan AS terlibat aksi saling serang sebagai bagian dari konflik yang kembali memanas.
Laporan CNN yang mengutip sejumlah pejabat AS serta sumber lainnya, menyebut jaringan satelit Rusia kemungkinan telah mengirimkan informasi intelijen kepada Iran.
Dilansir dari Middle East Monitor, Jumat, 18 September 2026, Data yang diduga berasal dari Moskow tersebut disebut dapat memberikan informasi kepada militer Iran mengenai posisi maupun pergerakan aset-aset militer AS yang ditempatkan di sejumlah negara sekutu Washington di Timur Tengah.
Salah satu serangan yang menjadi sorotan adalah serangan Iran pada 27 Maret lalu terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 12 personel militer AS yang berada di pangkalan mengalami luka-luka.
Selain itu, sebuah pesawat sistem peringatan dan kendali udara atau AWACS dilaporkan hancur akibat serangan tersebut.
CNN melaporkan satelit mata-mata Rusia Cosmos 2573 melintas di atas Pangkalan Udara Pangeran Sultan sekitar dua hari sebelum serangan Iran terjadi. Satelit tersebut disebut bergerak bersama 13 satelit Rusia lainnya.
Berdasarkan analisis terhadap data orbit, CNN menduga sejumlah satelit Rusia tersebut berpotensi mengumpulkan berbagai jenis informasi intelijen yang saling melengkapi.
Baca Juga: Dorong Industri Tebu di Melolo, Kementrans Terapkan Teknologi Citra Satelit
Satelit optik, misalnya, dapat menghasilkan citra dengan tingkat detail tinggi. Sementara satelit intelijen sinyal dapat mendeteksi pancaran radar dan komunikasi radio.
Adapun satelit inframerah dapat menangkap jejak panas dari suatu objek, sedangkan satelit radar synthetic aperture memungkinkan pemantauan perubahan di permukaan meski terhalang awan maupun kondisi gelap.
Nawaf Obaid dari Departemen Studi Perang King's College London menilai dugaan bantuan intelijen Rusia kepada Iran perlu dilihat dalam konteks kerja sama intelijen antara AS dan Ukraina.
Menurutnya, langkah Moskow tersebut dapat dipandang sebagai bentuk respons terhadap kerja sama tersebut dan berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah.
"Ini adalah pembalasan Rusia yang disertai 'bunga'. Dampaknya sangat besar, tidak hanya terhadap posisi AS di kawasan tersebut, tetapi juga terhadap arsitektur keamanan kawasan itu di masa mendatang," sebutnya.
Ilustrasi satelit (Dok.Antara)