Ntvnews.id, Berlin - Jerman menyiapkan sejumlah langkah baru untuk menghadapi ancaman spionase dan sabotase yang dinilai masih berpotensi terjadi di tengah dugaan berlanjutnya serangan hibrida Rusia.
Keputusan tersebut diambil pemerintah Jerman setelah Dewan Keamanan Nasional menggelar rapat pada Senin, 14 September 2026. Pertemuan itu membahas berbagai ancaman yang dinilai dapat mengganggu keamanan nasional Jerman.
Dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 16 September 2026, juru bicara pemerintah Jerman Stefan Kornelius mengatakan Dewan Keamanan Nasional melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tingkat kerentanan negara tersebut terhadap ancaman hibrida.
Pembahasan itu dilakukan setelah terjadinya serangan drone di Bandara Leipzig pada bulan lalu. Menurut otoritas setempat, aksi tersebut diduga telah direncanakan oleh badan intelijen Rusia.
“Dewan Keamanan Nasional memperoleh gambaran menyeluruh mengenai situasi tersebut,” kata Kornelius dalam pernyataan seusai rapat yang dipimpin Kanselir Friedrich Merz.
Kornelius mengatakan pemerintah Jerman memperkirakan negaranya masih akan menjadi sasaran serangan hibrida Rusia di masa mendatang. Karena itu, pemerintah menilai perlu dilakukan persiapan dan penguatan respons terhadap potensi ancaman tersebut.
Baca Juga: Kemenangan Bersejarah Partai Sayap kanan di Jerman Picu Kekhawatiran Politisi Eropa
Dewan Keamanan Nasional juga meneruskan pembahasan mengenai strategi pemerintah federal dalam menghadapi serangan hibrida berikutnya. Selain itu, sejumlah kebijakan yang sebelumnya telah disepakati melalui rencana aksi untuk menangkal ancaman hibrida turut dievaluasi kembali.
“Dewan memutuskan langkah-langkah baru untuk melawan spionase dan sabotase serta untuk melindungi infrastruktur kritis,” demikian pernyataan pemerintah Jerman.
Rapat tersebut merupakan bagian dari rangkaian koordinasi yang telah dilakukan secara intensif selama beberapa pekan oleh kementerian-kementerian yang menjadi bagian dari Dewan Keamanan Nasional.
Selain membahas aspek keamanan, Dewan Keamanan Nasional Jerman turut menyoroti ketergantungan negara terhadap pemasok dari luar negeri, khususnya untuk sektor-sektor yang dinilai strategis bagi perekonomian dan keamanan nasional.
Pemerintah Jerman sepakat mempercepat perubahan terhadap regulasi penyaringan investasi. Langkah lainnya adalah memperkuat dan memperluas sumber pasokan bahan baku kritis agar tidak bergantung pada sejumlah pemasok tertentu.
Gambar bendera Rusia dan Ukraina di tembok batu bata dengan bayangan tentara. (Antara)
“Dalam konteks ini, dewan memutuskan revisi cepat terhadap peraturan penyaringan investasi dan langkah-langkah untuk memastikan pasokan bahan baku kritis yang terdiversifikasi dan tangguh,” kata Kornelius.
Menurut Kornelius, Dana Bahan Baku (Raw Materials Fund) yang telah dibentuk pemerintah akan tetap menjadi instrumen pembiayaan utama untuk menjalankan Rencana Aksi Kebijakan Bahan Baku Jerman.
Dalam pertemuan tersebut, pemerintah juga kembali membahas penguatan pertahanan militer dan sipil. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta dampaknya terhadap keamanan nasional turut menjadi perhatian.
Berbagai keputusan tersebut memperlihatkan pendekatan Jerman terhadap keamanan nasional yang semakin luas. Ancaman yang dihadapi tidak lagi hanya dipandang dari sisi konflik militer konvensional, tetapi juga mencakup aktivitas spionase, sabotase, perlindungan infrastruktur vital, ketahanan rantai pasok, hingga perkembangan teknologi strategis seperti AI.
Ilustrasi - Bendera Jerman (Antara)