Kemenangan Bersejarah Partai Sayap kanan di Jerman Picu Kekhawatiran Politisi Eropa

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Sep 2026, 05:20
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Arsip foto - Bendera Jerman, NATO, dan Uni Eropa di depan Kantor Kanselir Jerman di Berlin pada (9/7/2025). ANTARA/Anadolu/Halil Sa??rkaya/pri. Arsip foto - Bendera Jerman, NATO, dan Uni Eropa di depan Kantor Kanselir Jerman di Berlin pada (9/7/2025). ANTARA/Anadolu/Halil Sa??rkaya/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Berlin - Kemenangan partai sayap kanan jauh Alternative for Germany (AfD) dalam pemilihan negara bagian Saxony-Anhalt, Jerman, memicu kekhawatiran dari sejumlah politisi di Eropa. Hasil pemilu tersebut dinilai dapat menjadi gambaran semakin kuatnya pengaruh kelompok populis dan sayap kanan jauh di berbagai negara Eropa.

Dilansir dari TRT World , Selasa, 8 September 2026, AfD meraih kemenangan telak dalam pemilihan yang berlangsung pada Minggu, 6 September 2026. Partai tersebut memperoleh 43,8 persen suara dan mengamankan 39 dari total 83 kursi yang diperebutkan.

Perolehan tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan hasil pemilihan sebelumnya. AfD juga unggul jauh atas Christian Democratic Union (CDU) yang hanya memperoleh 17,2 persen suara.

Meski belum berhasil mendapatkan mayoritas mutlak, hasil tersebut menjadi pencapaian terbesar AfD dalam sejarah pemilihan tingkat negara bagian di Jerman.

"Kami telah mencapai apa yang memang ingin kami capai. Kami telah mencetak sejarah di negara bagian ini," ujar kandidat utama AfD, Ulrich Siegmund.

Kemenangan AfD menjadi perhatian serius di tingkat Eropa karena partai tersebut kini merupakan salah satu kekuatan politik paling populer di Jerman. AfD diketahui membawa sejumlah agenda kontroversial, termasuk pengetatan kebijakan imigrasi, pemulihan hubungan dengan Rusia, pengurangan bantuan untuk Ukraina, hingga wacana agar Jerman keluar dari zona euro.

Partai-partai arus utama di Jerman selama ini menolak bekerja sama dengan AfD. Partai tersebut juga telah diklasifikasikan sebagai kelompok ekstremis sayap kanan oleh badan intelijen domestik Jerman.

Di Prancis, Menteri Keuangan Roland Lescure menilai kemenangan AfD sebagai pertanda yang mengkhawatirkan. Ia menghubungkan hasil tersebut dengan meningkatnya gerakan populisme di berbagai belahan dunia.

Baca Juga: Hubungan Rusia-Jerman Memanas, Goethe-Institut akan Ditutup

"Hal ini jelas mengirimkan sinyal yang sangat, sangat mengkhawatirkan," ujar Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure kepada radio RTL, seperti dikutip dari TRT World, Selasa, 8 September 2026.

Menteri Urusan Eropa Prancis Benjamin Haddad juga menyebut kemenangan tersebut sebagai "momen serius" bagi Eropa. Ia menilai partai-partai arus utama perlu merespons berbagai persoalan yang menjadi perhatian masyarakat tanpa ikut mengadopsi sikap nasionalisme maupun xenofobia.

Respons lebih keras disampaikan Perdana Menteri Polandia Donald Tusk. Ia mengatakan bahwa "hanya orang bodoh atau pengkhianat" yang dapat merasa senang dengan kemenangan AfD. Pernyataan tersebut ditujukan kepada sejumlah politisi oposisi Polandia yang menyambut hasil pemilu partai sayap kanan Jerman itu.

Kekhawatiran serupa juga muncul dari Republik Ceko. Politisi oposisi Vít Rakusan menilai partai-partai demokratis perlu lebih efektif dalam menangani persoalan sosial dan ekonomi agar isu-isu tersebut tidak semakin banyak dimanfaatkan oleh kelompok populis.

Ilustrasi - Bendera Jerman <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Bendera Jerman (Antara)

"Kemenangan AfD di Saxony-Anhalt menunjukkan betapa berbahayanya ketika kaum demokrat membiarkan isu-isu krusial seperti migrasi dan masalah sosial mendesak lainnya dikuasai oleh kaum populis," ujar Rakusan.

Hasil pemilihan Saxony-Anhalt juga memiliki makna historis. Untuk pertama kalinya sejak berakhirnya Perang Dunia II, partai sayap kanan jauh berada dalam posisi yang berpotensi mendekati kekuasaan di tingkat negara bagian Jerman.

Namun, kemenangan elektoral tersebut belum otomatis membuat AfD dapat memimpin pemerintahan negara bagian. Partai tersebut masih menghadapi penolakan dari partai-partai arus utama yang selama ini menerapkan kebijakan tidak bekerja sama dengan AfD.

Terlepas dari apakah AfD nantinya berhasil membentuk pemerintahan atau tidak, hasil pemilu tersebut menjadi pukulan politik bagi Friedrich Merz. Partai CDU yang dipimpinnya sebelumnya telah menguasai Saxony-Anhalt selama 24 tahun.

x|close