Ntvnews.id, Jakarta - Amerika Serikat dikabarkan melayangkan ancaman serius untuk menghentikan pasokan persenjataan militer serta aliran informasi intelijen ke Ukraina. Langkah penekanan tersebut dilakukan agar pemerintah Kiev bersedia menghentikan serangan udara yang menyasar fasilitas kilang minyak di wilayah Rusia, sebagaimana dilaporkan oleh surat kabar Financial Times pada hari Minggu (11/10).
Berdasarkan keterangan dari sejumlah pejabat Eropa, Washington gencar memberikan tekanan kepada pihak Eropa dan Ukraina guna memastikan serangan terhadap infrastruktur pengolahan energi milik Rusia itu dihentikan sepenuhnya.
Peringatan keras yang dilayangkan AS mencakup opsi penangguhan pertukaran data intelijen strategis, serta penghentian mekanisme pengadaan bantuan militer dari AS untuk Ukraina yang dikenal melalui skema Prioritized Ukraine Requirements List (PURL).
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa pihak Rusia dan Ukraina telah berhasil mencapai suatu kesepakatan damai untuk saling menghentikan serangan yang menargetkan fasilitas-fasilitas sektor energi.
Meski menyatakan bahwa perjanjian tersebut akan mulai berlaku dalam waktu dekat, Trump belum membeberkan secara lebih rinci mengenai mekanisme maupun butir-butir kesepakatan yang dimaksud.
Sebagai informasi, program PURL sendiri merupakan inisiatif pengadaan militer yang diluncurkan oleh aliansi NATO pada musim panas 2025 lalu. Melalui skema tersebut, pendanaan untuk persenjataan buatan AS yang disuplai ke Ukraina ditanggung secara kolektif oleh negara-negara kawasan Eropa dan Kanada.
(Sumber: Antara)
Presiden AS Donald Trump berbicara kepada media sebelum menaiki Marine One di South Lawn Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat, pada 1 Oktober 2026. (Antara)