Zelensky Curiga Tawaran Negosiasi Putin Hanya Trik Politik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 27 Okt 2026, 07:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy Arsip - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (antara)

Ntvnews.id, Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mencurigai pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin yang menyatakan kesiapan untuk berunding damai hanya merupakan “trik politik”. Menurut Zelensky, langkah tersebut mungkin bertujuan meredakan ketegangan dengan Washington menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat (AS).

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Ukraina, TSN, dilansir Selasa, 27 Oktober 2026, Zelensky mengatakan keseriusan Kremlin dalam mengupayakan perdamaian harus dibuktikan melalui tindakan nyata dan kesediaan mencapai kesepakatan.

Ia menilai rencana perundingan trilateral yang dijadwalkan berlangsung pada November mendatang akan menjadi kesempatan untuk menguji apakah pernyataan Putin benar-benar menunjukkan niat berdamai atau sekadar strategi politik.

Zelensky menegaskan Kyiv siap berpartisipasi dalam perundingan trilateral pada tingkat kelompok teknis. Namun, ia mengingatkan pembicaraan tersebut harus menghasilkan perkembangan konkret menuju penyelesaian konflik.

Apabila kesepakatan komprehensif belum dapat dicapai, Ukraina mengajukan beberapa alternatif. Opsi tersebut mencakup gencatan senjata di sektor energi, kesepakatan mengenai keamanan maritim dan pengiriman gandum, pertukaran seluruh tahanan, hingga pertemuan antara pemimpin Ukraina, AS, dan Rusia.

Baca Juga: Pemerintah Perkuat Program Perumahan, Tingkatkan Kelayakan Hunian hingga Berdayakan UMKM Lokal

“Energi, gandum, manusia—semua itu merupakan hal konkret. Sementara itu, pertemuan di tingkat pemimpin merupakan kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang konkret setelah pertemuan trilateral kami. Inilah yang kami minta dan usulkan,” kata Zelensky, dikutip dari Anadolu, Selasa, 27 Oktober 2026.

Persoalan Wilayah Jadi Garis Merah Ukraina

Mengenai persoalan teritorial, Zelensky menegaskan pembahasan terkait wilayah harus dilakukan langsung oleh para pemimpin negara. Ia menyebut masalah tersebut sebagai “garis merah” yang tidak bisa diabaikan Ukraina dalam proses negosiasi.

Zelensky juga menolak usulan yang membatasi kemampuan angkatan bersenjata Ukraina maupun tuntutan agar negaranya menerapkan status netral.

“Kami tidak menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kami siap untuk berdiskusi,” ujarnya. Ia menambahkan, sejumlah persoalan lain masih dapat dibahas melalui kelompok teknis.

Zelensky turut menyatakan keberatannya apabila Ukraina harus mengikuti pertemuan tingkat pemimpin dengan Putin setelah sanksi terhadap Moskow dicabut. Menurutnya, pencabutan sanksi berpotensi melemahkan posisi tawar Kyiv dalam negosiasi.

“Saya tidak ingin kita berada dalam pertemuan dengan Putin tanpa alat tawar—tanpa sanksi, tanpa uang, atau tanpa aset yang dibekukan. Karena dengan begitu, seperti yang dikatakan Trump, kita benar-benar tidak akan memiliki banyak kartu di tangan,” katanya.

Ukraina Soroti Rencana Gencatan Senjata di Oleshky

Arsip foto - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy <b>(Anadolu Ajans? (aa.com.tr))</b> Arsip foto - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (Anadolu Ajans? (aa.com.tr))

Dalam wawancara yang sama, Zelensky juga menyinggung rencana gencatan senjata terbatas di Kota Oleshky, Ukraina, yang saat ini berada di bawah kendali Rusia. Usulan yang disebut berasal dari AS itu direncanakan mulai berlaku pada 27 Oktober selama beberapa hari guna membuka akses bagi misi kemanusiaan.

Rencana tersebut disusun dengan melibatkan Ibu Negara AS Melania Trump. Salah satu langkah yang diperlukan adalah pembersihan ranjau di sepanjang jalan agar bantuan kemanusiaan dapat menjangkau wilayah tersebut.

Namun, Zelensky mengkhawatirkan Rusia akan memanfaatkan proses evakuasi untuk mengarahkan warga ke wilayahnya, bukan memberikan kebebasan kepada mereka untuk menentukan tujuan.

“Tentu saja, Rusia akan melakukan segala cara untuk membersihkan ranjau di jalan sedemikian rupa agar orang-orang ini pergi ke Rusia dan tetap tinggal di sana. Mereka tidak akan begitu saja membebaskan orang-orang,” ujarnya.

Zelensky menjelaskan bahwa sebagian warga sipil direncanakan dievakuasi ke wilayah yang berada di bawah kendali Ukraina. Ia menegaskan bahwa prioritas utama adalah mengakhiri blokade dan menjamin keselamatan masyarakat yang terdampak konflik.

“Dalam kondisi ideal, mereka seharusnya dapat mencapai tujuan mereka dan dievakuasi ke sini, kepada kami, ke Ukraina, yang akan menyediakan semua kebutuhan mereka dan memberikan dukungan,” kata Zelensky.

x|close