Ntvnews.id, Jakarta - Ukraina menggunakan drone untuk mengevakuasi tentara yang terluka dari garis depan pertempuran. Teknologi ini menjadi solusi alternatif ketika pengiriman kendaraan penyelamat melalui darat terlalu berisiko akibat ancaman drone dan ranjau Rusia.
Operasi tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan di medan perang mendorong pengembangan teknologi militer. Drone yang biasanya digunakan untuk pengintaian atau mengangkut logistik kini dimanfaatkan untuk menyelamatkan nyawa prajurit.
Menurut laporan The Kyiv Independent, melansir Ars Technica, Jumat (22/10/2026), evakuasi berlangsung di lokasi yang dirahasiakan di garis depan.
Pada 19 Oktober 2026, Angkatan Darat Ukraina membagikan video yang memperlihatkan seorang tentara terluka terikat pada tali pengaman di bawah drone besar dengan enam rotor atau hexacopter. Drone itu kemudian menerbangkan prajurit tersebut menuju lokasi yang lebih aman.
"Ini adalah peristiwa bersejarah, tahap selanjutnya dari evakuasi korban luka," kata Napalm, seorang programmer dari kompi sistem darat tak berawak Brigade Serbu Terpisah ke-92 Ukraina, dalam pernyataan yang dikutip media tersebut.
Dia menambahkan, pekerjaan selanjutnya adalah memastikan misi semacam ini dapat dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.
Drone Khusus Angkut Tentara yang Terluka
Untuk menjalankan misi tersebut, Brigade ke-92 menggunakan drone hexacopter berat Heavy Shot AYUDAG 6 yang disediakan secara gratis oleh produsen asal Ukraina, Gurzuf Defence.
Drone ini dilengkapi sistem winch atau pengerek untuk membantu proses pengangkatan. Sebelum diterbangkan, tentara yang terluka terlebih dahulu dipasangi karabiner khusus agar dapat terhubung dengan sistem pengaman drone.
Menurut Gurzuf Defence, prajurit tersebut merupakan anggota Brigade Mekanis Terpisah ke-30 Ukraina. Dia telah menghabiskan hampir 500 hari di posisi garis depan di bawah ancaman serangan Rusia.
Selama bertugas, pasokan amunisi dan perlengkapan bagi prajurit di posisi tersebut juga mengandalkan pengiriman menggunakan drone.
Proses evakuasi melalui udara itu berlangsung selama 1 jam 14 menit, dengan jarak tempuh hampir 62 kilometer. Heavy Shot AYUDAG 6 dilaporkan mampu membawa beban hingga sekitar 90 kilogram.
Penggunaan drone berat berpotensi mempercepat evakuasi sekaligus mengurangi risiko bagi tim penyelamat yang harus memasuki wilayah berbahaya. Pilot dapat mengendalikan perangkat dari jarak jauh tanpa perlu mendekati posisi pertempuran.
Meski demikian, teknologi ini bukan tanpa risiko. Pavlo Feldblium, salah satu pendiri Gurzuf Defence, mengatakan kepada The Kyiv Independent bahwa evakuasi menggunakan drone semacam itu tetap berbahaya bagi prajurit yang terluka dan sebaiknya menjadi pilihan terakhir.
Ukraina Kembangkan Drone Evakuasi Khusus
Operasi tersebut berlangsung hanya sekitar sepekan setelah produsen drone Ukraina lainnya, SkyFall, memperkenalkan StarGate. Drone hexacopter ini dirancang khusus untuk mengevakuasi korban dengan menggunakan wadah berbasis tandu.
Menurut laporan Associated Press, drone StarGate mulai dikirim ke sejumlah brigade Ukraina untuk menjalani pengujian di garis depan pada Oktober 2026.
StarGate memanfaatkan komunikasi satelit Starlink, tetapi juga dilengkapi sistem komunikasi mandiri sebagai cadangan. Fitur ini dapat membantu ketika koneksi utama terganggu.
Drone tersebut juga memiliki sistem kecerdasan buatan (AI) internal yang dirancang untuk membantu perangkat kembali ke area aman ketika seluruh komunikasi terputus.
Pengembangan ini memperlihatkan upaya Ukraina mencari cara untuk mengevakuasi tentara dari wilayah yang sulit dijangkau kendaraan darat maupun tim medis.
Pelajaran bagi Militer Modern
Pengalaman Ukraina dalam menggunakan drone untuk evakuasi korban berpotensi menjadi bahan pembelajaran bagi Pentagon. Militer Amerika Serikat (AS) telah mengembangkan dan menguji berbagai pesawat tanpa awak untuk misi evakuasi medis selama bertahun-tahun.
Namun, kondisi medan perang Ukraina menghadirkan tantangan berbeda. Ancaman drone pengintai dan serangan udara membuat pergerakan kendaraan penyelamat maupun tim medis semakin berisiko.
Bahkan kendaraan darat tanpa awak dapat menghadapi kesulitan ketika harus melintasi medan yang berat dalam perjalanan panjang, terlebih jika pergerakannya mudah terdeteksi lawan.
Dalam artikel untuk War on the Rocks, Kai Gilmour Gath, mantan operator pengintai Angkatan Darat Inggris dan Angkatan Bersenjata Ukraina yang pernah bertugas di wilayah Donetsk, menyoroti nasib tentara terluka yang dapat berakhir meninggal dunia atau dinyatakan hilang dalam pertempuran.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat masih mengandalkan helikopter berawak untuk mengevakuasi prajurit yang terluka. Pada Juni 2026, Angkatan Laut AS juga mengerahkan kapal tanpa awak untuk membantu penyelamatan penerbang yang jatuh di laut dekat Selat Hormuz.
Penggunaan drone untuk evakuasi di Ukraina menunjukkan bahwa teknologi tanpa awak berpotensi memperluas pilihan penyelamatan di medan perang. Meski belum dapat menggantikan seluruh metode evakuasi medis, inovasi ini menawarkan alternatif ketika jalur darat dan udara konvensional terlalu berbahaya.
Ukraina menggunakan drone untuk mengevakuasi tentara yang terluka dari garis depan pertempuran. (Foto: Istimewa via Ars Technica)