Ntvnews.id, Taheran - Rusia menyatakan kesiapannya membantu mengoperasikan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr di Iran yang terdampak serangan Amerika Serikat dan Israel pada Maret 2026. Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran.
Dilansir dari AFP, Kamis, 22 Oktober 2026, Pertemuan kedua pejabat itu tidak hanya membahas upaya perdamaian di Timur Tengah, tetapi juga kelanjutan kerja sama nuklir antara Moskow dan Teheran.
Lavrov menegaskan komitmen Rusia untuk menjalankan perjanjian kemitraan strategis selama 20 tahun dengan Iran yang mulai berlaku pada 2 Oktober 2026.
Ia menyebut para spesialis Rusia akan kembali bekerja secara bertahap di PLTN Bushehr setelah sebelumnya meninggalkan lokasi tersebut selama perang. Lavrov juga menghubungkan pemulihan pelayaran dengan upaya menjamin keamanan Iran dari potensi serangan lanjutan.
Serangan Israel yang mendapat dukungan Amerika Serikat di sekitar PLTN Bushehr terjadi pada Selasa malam, 17 Maret 2026. Meski proyektil yang dilaporkan dalam insiden tersebut tidak menyebabkan kerusakan, peristiwa itu memicu kemarahan pemerintah Rusia.
Baca Juga: Jerman Desak Iran Buka Selat Hormuz dan Hentikan Pengembangan Nuklir
Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova, Moskow mengecam serangan yang terjadi di sekitar fasilitas nuklir tersebut.
"Tel Aviv dan Washington harus menahan diri dari serangan sembrono," katanya.
Zakharova juga menyoroti keberadaan warga Rusia yang bekerja di fasilitas tersebut dan berpotensi terdampak konflik.
"Nyawa dan keselamatan warga Rusia yang jadi tenaga kerja di sana," ujarnya.
Sejarah Kerja Sama Nuklir Iran dan Rusia
Profesor Emeritus Université Catholique di Prancis, Dr. Bichara Khader, yang mendalami persoalan dunia Arab kontemporer, menjelaskan bahwa proyek PLTN Bushehr bermula ketika program nuklir Iran mengalami keterbatasan pendanaan pada awal 1990-an. Pada periode tersebut, dukungan dari negara-negara Barat terhadap proyek itu juga terbatas.
Kondisi tersebut mendorong Iran memperluas kerja sama dengan negara lain, termasuk Tiongkok dan Rusia.
"Saat itulah Iran beralih ke Tiongkok, yang mulai sangat membutuhkan minyak dan gas Iran, dan terutama Rusia, yang dengan senang hati mengambil alih peran negara-negara Barat di negara yang sentralitas strategisnya tidak diragukan lagi," kata Bichara dalam laman European Institute of Mideterranean.
Kerja sama dengan Rusia kemudian menghasilkan penyelesaian unit pertama PLTN Bushehr. Kontrak proyek tersebut ditandatangani pada 1999. Sementara itu, Iran dan Tiongkok telah menandatangani perjanjian kerja sama pada 1990 untuk "transfer teknologi siklus bahan bakar nuklir."
Kemitraan teknologi nuklir Iran dengan Rusia dan Tiongkok turut memicu reaksi Amerika Serikat. Washington memberlakukan serangkaian sanksi pada 1995 dan 1996 terhadap perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di sektor minyak dan gas Iran.
Ancaman Keamanan terhadap PLTN Bushehr
Ilustrasi - Fasilitas nuklir (ANTARA)
Ancaman terhadap PLTN Bushehr bukan kali pertama terjadi. Kepala perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, Alexei Likhachyov, sebelumnya memperingatkan bahwa fasilitas tersebut menghadapi risiko akibat berlanjutnya serangan Amerika Serikat dan Israel di berbagai wilayah Iran.
"Stasiun tersebut jelas berada dalam ancaman, karena ledakan sudah terdengar beberapa kilometer dari garis pertahanan stasiun, garis pertahanan fisiknya," kata Likhachyov kepada media Rusia, The Moscow Times.
Ia menjelaskan bahwa serangan rudal yang terjadi tidak secara langsung menyasar PLTN Bushehr, melainkan fasilitas militer yang diperkirakan berada di sekitar kawasan tersebut. Namun, eskalasi konflik dinilai meningkatkan risiko terhadap keamanan pembangkit.
Menurut Likhachyov, serangan terhadap fasilitas nuklir itu berpotensi menyebabkan penyebaran kontaminan radioaktif ke wilayah sekitarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pembangunan dua unit reaktor baru di Bushehr untuk sementara dihentikan akibat serangan udara yang masih berlangsung. Meski demikian, para spesialis Rusia akan tetap berada di lokasi untuk melanjutkan pekerjaan yang memungkinkan.
Rosatom sebelumnya membantu Iran membangun PLTN Bushehr, yang mulai terhubung dengan jaringan listrik nasional pada 2011 dengan kapasitas 1.000 megawatt.
Moskow dan Teheran kemudian menyepakati pembangunan dua reaktor tambahan di kompleks tersebut. Proses konstruksi kedua unit itu dimulai pada 2017.
Komitmen Rusia untuk kembali membantu pengoperasian Bushehr menunjukkan berlanjutnya kerja sama strategis kedua negara, meskipun fasilitas nuklir tersebut masih menghadapi ancaman keamanan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ilustrasi - Fasilitas nuklir Iran (Antara)