Ntvnews.id, Jakarta - Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) mulai menjadi salah satu opsi strategis dalam pembahasan masa depan energi Indonesia. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik, tuntutan pengurangan emisi karbon, serta upaya memperkuat kemandirian energi nasional, teknologi nuklir menawarkan peluang untuk membangun sistem kelistrikan yang lebih andal dan rendah emisi.
Namun, rencana pengembangan PLTN tidak semata-mata berkaitan dengan pemilihan teknologi pembangkit. Keputusan tersebut juga menyangkut kesiapan infrastruktur, jaminan keselamatan, kepastian investasi, penerimaan masyarakat, serta kemampuan negara mengelola teknologi strategis untuk kepentingan jangka panjang.
Dalam konteks tersebut, perspektif riset dan kebijakan energi menjadi penting untuk menilai bagaimana PLTN dapat berkontribusi terhadap target zero emission tanpa mengabaikan aspek keamanan pasokan listrik dan kedaulatan energi Indonesia.
Dr. Topan Setiadipura, peneliti nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan jika energi menuntut perubahan mendasar dalam sistem penyediaan listrik. Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan energi rendah karbon, mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil, serta memastikan kebutuhan listrik masyarakat dan industri tetap terpenuhi.
Energi surya, angin, air, panas bumi, dan nuklir memiliki karakteristik yang berbeda dalam sistem kelistrikan. Sebagian sumber energi terbarukan bergantung pada kondisi alam dan waktu, sehingga integrasinya memerlukan dukungan jaringan listrik, penyimpanan energi, interkoneksi, dan pengelolaan sistem yang memadai.
"PLTN memiliki karakteristik berbeda karena dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara berkelanjutan, dengan emisi gas rumah kaca yang rendah selama siklus hidup pembangkit dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil" ungka Topan dalam keterangannya, Kamis, 15 Oktober 2026.
Karakteristik tersebut menjadikan nuklir salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan untuk menyediakan listrik rendah karbon secara stabil, terutama ketika kebutuhan listrik meningkat akibat pertumbuhan industri, elektrifikasi transportasi, dan perkembangan ekonomi digital.
Meski demikian, nuklir bukan satu-satunya jawaban bagi transisi energi. Kontribusinya perlu dinilai berdasarkan kebutuhan sistem kelistrikan Indonesia, kesiapan teknologi, biaya pembangunan, waktu penyelesaian proyek, serta kemampuan mengelola risiko keselamatan dan limbah radioaktif.
Pengembangan PLTN juga perlu disertai investasi pada pendidikan, penelitian, dan peningkatan kompetensi tenaga ahli Indonesia. Dengan demikian, pemanfaatan nuklir tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas pembangkit, tetapi turut mendorong terbentuknya ekosistem ilmu pengetahuan dan industri berteknologi tinggi.
Selain aspek teknologi, keberhasilan pengembangan PLTN bergantung pada arah kebijakan energi nasional. Keputusan untuk membangun pembangkit nuklir perlu ditempatkan dalam perencanaan jangka panjang yang mempertimbangkan proyeksi permintaan listrik, bauran energi, kebutuhan investasi, serta ketahanan pasokan bahan bakar.
Dalam perspektif kebijakan, peran Dewan Energi Nasional menjadi penting untuk membahas keterkaitan antara pengembangan PLTN, ketahanan energi, dan pencapaian sasaran transisi energi.
Dr. M. Khalid Syeirazzi dari Dewan Energi Nasional mengungkapkan bahwa Nuklir dapat menjadi poros kedaulatan energi kedaulatan juga menyangkut kepastian pasokan, kemampuan menghadapi gejolak harga energi global, penguasaan teknologi, ketersediaan sumber daya manusia, serta kapasitas negara dalam menentukan arah kebijakannya sendiri.
"PLTN berpotensi mendukung ketahanan pasokan listrik karena kebutuhan bahan bakarnya relatif kecil dibandingkan energi yang dihasilkan jika dibanding dengan batu bara. Namun, Indonesia tetap harus memperhitungkan rantai pasok bahan bakar nuklir, ketergantungan pada teknologi dan komponen tertentu, pembiayaan proyek, serta kemampuan mengelola limbah dan dekomisioning pembangkit" papar Khalid.
Karena itu, pengembangan PLTN harus disertai strategi yang jelas untuk memperkuat kemampuan nasional, termasuk pengembangan tenaga ahli, transfer pengetahuan, tata kelola proyek, dan pengawasan keselamatan.
Keamanan Pasokan Listrik di Tengah Pertumbuhan Ekonomi
Selain itu khalid juga menyampaikan bahwa keandalan listrik menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Industri manufaktur, pusat data, transportasi listrik, dan berbagai layanan publik membutuhkan pasokan listrik yang stabil dengan kualitas yang terjaga.
"Ketergantungan berlebihan pada satu sumber energi dapat meningkatkan kerentanan sistem terhadap gangguan pasokan, perubahan harga, maupun kendala operasional. Sebaliknya, diversifikasi sumber energi dapat membantu memperkuat ketahanan sistem kelistrikan apabila direncanakan dan dikelola dengan baik" tambah khalid.
Dalam kerangka tersebut, PLTN dapat dipertimbangkan sebagai salah satu komponen bauran energi rendah karbon. Pembangkit nuklir berpotensi menyediakan pasokan listrik stabil, sementara energi terbarukan lainnya dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik sumber daya di setiap wilayah.
Akan tetapi, jaminan keamanan pasokan tidak otomatis tercipta hanya dengan membangun PLTN. Keandalan sistem tetap bergantung pada kecukupan kapasitas pembangkit, kesiapan jaringan transmisi dan distribusi, cadangan daya, fleksibilitas sistem, serta kemampuan operator mengelola gangguan.
Diskusi Economic Frontline di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.