Ntvnews.id, Tel Aviv - Tingkat partisipasi pemilih dalam pemilihan umum Israel mencapai 16,68 persen hingga pukul 10.00 waktu setempat pada Selasa, 27 Oktober 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi pada jam yang sama dalam kurun waktu 45 tahun terakhir.
Dioansir dari Yedioth Ahronoth, Rabu, 28 Oktober 2026, dengan mengutip Komite Pemilihan Umum Pusat Israel, melaporkan bahwa lebih dari 1,2 juta warga telah menggunakan hak pilih mereka hingga waktu tersebut. Pelaksana tugas direktur jenderal komite, Din Livneh, mengonfirmasi jumlah pemilih tersebut.
Tingkat partisipasi itu naik 0,78 poin persentase dibandingkan pemilu sebelumnya pada 2022, ketika angka partisipasi pada waktu yang sama tercatat sebesar 15,9 persen.
Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, menilai peningkatan partisipasi dipengaruhi oleh bertambahnya jumlah pemilih Arab serta warga di wilayah yang menjadi basis dukungan partai-partai kiri. Ia menyampaikan pandangan tersebut melalui unggahan di media sosial.
Baca Juga: Ketua Parlemen Iran Pastikan Kondisi Kesehatan Khamenei Baik-baik Saja
Anggota parlemen Israel dari kalangan Arab, Ahmad Tibi, juga melaporkan tingginya antusiasme masyarakat untuk memberikan suara. Ia optimistis kondisi tersebut akan membawa hasil positif bagi kelompoknya.
“Tempat-tempat pemungutan suara dipadati pemilih seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan saya yakin kami akan meraih kemenangan besar,” kata Tibi dalam pernyataan pers yang dikutip Anadolu.
Tingginya partisipasi terjadi ketika partai-partai politik Arab dan para pemimpin oposisi berupaya mengerahkan dukungan pemilih dalam persaingan politik yang ketat. Hasil pemilu kali ini dinilai dapat menentukan kelanjutan kekuasaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Berdasarkan laporan The Jerusalem Post, sejumlah wilayah mencatat tingkat partisipasi yang relatif tinggi hingga pukul 10.00 waktu setempat. Ein Hod mencatat angka 25,7 persen, disusul Sde Nehemia sebesar 25,4 persen. Sementara itu, partisipasi di Nes Harim mencapai 23,2 persen dan Odim sebesar 23 persen.
Oposisi Dorong Pergantian Kepemimpinan
Sebelum pemungutan suara berlangsung, sejumlah tokoh oposisi menyerukan masyarakat Israel untuk datang ke tempat pemungutan suara dalam jumlah besar. Mereka berharap tingginya partisipasi dapat mengakhiri pemerintahan Netanyahu.
Pemimpin partai oposisi Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman, menyerukan agar era kepemimpinan Netanyahu diakhiri. Seruan serupa disampaikan Gadi Eisenkot, pemimpin partai oposisi Yashar, yang mengajak masyarakat mendukung perubahan politik di Israel.
Lebih dari 7,3 juta warga Israel tercatat memenuhi syarat untuk mengikuti pemilu yang akan menentukan komposisi Knesset atau parlemen Israel. Lembaga legislatif tersebut memiliki total 120 kursi.
Tempat pemungutan suara mulai dibuka pada pukul 07.00 waktu setempat dan dijadwalkan beroperasi hingga pukul 22.00.
Pemilu ini menjadi pemungutan suara nasional pertama di Israel sejak perang di Jalur Gaza pecah pada Oktober 2023. Konflik tersebut menuai kecaman internasional, dengan sejumlah pihak menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai genosida.
Pelaksanaan pemilu berlangsung di tengah polarisasi politik yang tajam. Sejumlah isu utama yang memengaruhi pilihan masyarakat meliputi kepemimpinan Netanyahu, perang di Gaza, konfrontasi militer Israel dengan Iran, serta arah kebijakan negara tersebut pada masa mendatang.
Koalisi yang dipimpin Partai Likud pimpinan Netanyahu bersaing dengan kelompok oposisi untuk mendapatkan minimal 61 kursi parlemen. Jumlah tersebut diperlukan untuk mengamankan mayoritas di Knesset dan membentuk pemerintahan.
Namun, sejumlah jajak pendapat terbaru belum menunjukkan adanya blok politik yang mampu memastikan perolehan mayoritas. Situasi ini membuka peluang bagi partai-partai Arab untuk memainkan peran penting dalam menentukan arah pembentukan pemerintahan Israel berikutnya.
Pemilu Israel (Istimewa)