Pilpres Brasil Ditentukan Sentimen Israel-Palestina

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 28 Okt 2026, 07:25
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (depan) berbicara pada Konferensi Tingkat Tinggi Kepala Negara Pasar Bersama Selatan (Mercosur) di Foz do Iguacu, Brasil, Sabtu, 20 Desember 2025. Arsip foto - Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva (depan) berbicara pada Konferensi Tingkat Tinggi Kepala Negara Pasar Bersama Selatan (Mercosur) di Foz do Iguacu, Brasil, Sabtu, 20 Desember 2025. (Antara)

Ntvnews.id, Brasilia - Calon presiden Brasil dari Partai Liberal, Flavio Bolsonaro, harus mengakui keunggulan pesaingnya, Lula da Silva, yang berusia 80 tahun, dalam pemilihan presiden putaran kedua pada Minggu, 25 Oktober 2026. Kekalahan Flavio terjadi meski ia memperoleh dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Dilansir dari AFP, Rabu, 28 Oktober 2026, Trump bahkan menunjukkan penolakan terhadap hasil pemilu setelah Lula dinyatakan menang. Ia menuding proses pemilihan umum di Brasil diwarnai kecurangan karena kandidat yang didukungnya gagal meraih kemenangan.

Dalam keterangannya kepada media pada Senin, 26 Oktober 2026, Trump menyebut hasil pemungutan suara di Brasil "terlihat mengerikan" dan "seperti pemilu yang dicurangi lainnya".

Sementara itu, Netanyahu telah menyatakan dukungannya kepada Flavio sejak putaran pertama pemilu. Setelah hasil pemungutan suara tahap awal diumumkan, Netanyahu secara terbuka menyampaikan ucapan selamat kepada Flavio sekaligus berharap ia dapat memenangkan putaran kedua.

Sentimen negatif terhadap Israel

Flavio Bolsonaro semula menyambut antusias dukungan dari Trump dan Netanyahu. Hal itu terlihat saat kampanye Partai Liberal di Sao Paulo pada 18 Oktober 2026, ketika bendera Amerika Serikat, bendera Israel, serta berbagai atribut yang berkaitan dengan Trump turut ditampilkan.

Namun, menjelang pemungutan suara pada akhir pekan lalu, penyelenggara kampanye meminta para pendukung Flavio untuk "menyingkirkan" bendera dari "negara lain".

Baca Juga: Trump Tuduh Pemilu Brasil Penuh Kecurangan

Sikap tersebut muncul di tengah sentimen negatif sebagian masyarakat Brasil terhadap Israel. Hasil Spring 2026 Global Attitudes Survey yang dirilis Pew Research Center menunjukkan bahwa 52 persen warga Brasil memiliki pandangan negatif terhadap Israel, sedangkan 33 persen lainnya memberikan penilaian positif. Survei tersebut dilakukan pada Juni 2026.

Temuan ini menjadi perhatian mengingat kelompok Zionisme Kristen merupakan salah satu kekuatan politik yang berkembang pesat di Brasil.

Indikasi perubahan sikap Brasil terhadap Israel juga terlihat dari hubungan perdagangan minyak kedua negara. Middle East Eye (MEE) melaporkan Brasil tidak mencatatkan ekspor minyak secara langsung ke Israel sepanjang 2025. Kondisi itu disebut para aktivis sebagai keberhasilan gerakan boikot.

Berdasarkan Buku Tahunan Statistik 2026 yang diterbitkan Badan Perminyakan Nasional Brasil (ANP) pada akhir Juni, tidak terdapat pengiriman minyak langsung dari Brasil ke Israel selama 2025.

Gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) menilai penghentian ekspor tersebut merupakan hasil tekanan terhadap pemerintah dan perusahaan-perusahaan di Brasil.

"Kami menyambut baik penghentian ekspor langsung sebagai langkah konkret untuk mengurangi keterlibatan, dan sebagai tanda bahwa tekanan dari akar rumput dan serikat pekerja dapat membuat Brasil mengakui kewajiban internasionalnya," tulis gerakan tersebut melalui media sosial.

Meski demikian, Brasil sebelumnya merupakan salah satu pemasok minyak mentah penting bagi Israel. Kelompok kampanye energi bersih Oil Change International mencatat bahwa hingga pertengahan 2024, Brasil menempati posisi kelima sebagai pemasok minyak mentah terbesar bagi Israel, dengan kontribusi sekitar 9 persen dari total impor minyak mentah negara tersebut.

Ketegangan hubungan kedua negara juga pernah meningkat pada Februari 2024. Saat itu, Israel menetapkan Presiden Brasil Lula da Silva sebagai "persona non grata" setelah Lula menuduh Israel melakukan genosida dan membandingkan tindakannya dengan pembantaian terhadap orang Yahudi oleh Nazi.

Kekalahan Flavio Bolsonaro dalam pemilu kali ini pun menjadi sorotan karena terjadi di tengah dukungan terbuka dari Trump dan Netanyahu, serta munculnya berbagai indikator perubahan sentimen masyarakat Brasil terhadap Israel.

x|close