Ntvnews.id, Tel Aviv - Partai-partai Arab di Israel menyatakan kesediaannya bergabung dengan blok perubahan yang dipimpin Gadi Eisenkot untuk mengakhiri pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dukungan tersebut berpotensi menjadi penentu dalam upaya oposisi membentuk pemerintahan baru setelah hasil pemilu menunjukkan kebuntuan politik.
Ketua Joint List, Ahmad Tibi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima permintaan dari kelompok Eisenkot untuk menjalin kerja sama politik. Ia menyatakan partai-partai Arab siap mendukung upaya menggulingkan pemerintahan Netanyahu.
"Kami bersedia membantu mereka menjatuhkan pemerintah," kata Tibi, seperti dikutip dari Jerusalem Post, Jumat, 30 Oktober 2026.
Melalui pernyataan resminya, Joint List juga menegaskan komitmen untuk mengerahkan seluruh kekuatan politiknya demi mengakhiri kekuasaan Netanyahu.
"Joint List akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengakhiri pemeirntahan Netanyahu," demikian pernyataan tersebut.
"Kami siap untuk kerja sama politik guna membentuk pemerintah alternatif, pemerintahan yang menghadirkan alternatif sejati dan berkomitmen untuk perubahan mendasar daari kebijakan rasis pemerintah saat ini," lanjut mereka.
Baca Juga: Tragis! Mayat Terkapar Gegerkan Warga Legok Tangerang
Joint List turut menyampaikan bahwa pemerintahan baru nantinya diharapkan dapat memberikan pengakuan terhadap hak-hak masyarakat Arab. Selain itu, pemerintahan tersebut diharapkan mengakhiri praktik pengucilan komunitas Arab beserta perwakilannya dari sistem politik Israel.
Dalam pemilu kali ini, partai-partai Arab dinilai memiliki posisi strategis karena perolehan kursinya berpotensi menentukan siapa yang akan menduduki jabatan perdana menteri.
Berdasarkan penghitungan suara sementara hingga Kamis, 29 Oktober 2026, blok pendukung Netanyahu memperoleh 52 kursi parlemen. Sementara itu, kelompok oposisi pimpinan Eisenkot mengamankan 48 kursi. Adapun partai-partai Arab berhasil meraih total 20 kursi, dengan rincian 12 kursi untuk Joint List dan delapan kursi bagi Ra'am.
Berdasarkan ketentuan politik Israel, seorang calon perdana menteri membutuhkan dukungan minimal 61 dari total 120 anggota parlemen atau Knesset untuk membentuk pemerintahan.
Namun, hasil pemilu sementara menunjukkan belum ada satu pun blok politik yang berhasil memenuhi persyaratan tersebut. Situasi ini membuat dukungan partai-partai Arab menjadi semakin penting dalam proses pembentukan koalisi pemerintahan.
Analis politik Palestina, Ahmed Najar, menilai kerja sama antara Eisenkot dan partai-partai Arab bukan sekadar kemungkinan politik, melainkan satu-satunya pilihan yang dinilai "realistis" bagi Eisenkot untuk mengumpulkan dukungan mayoritas dan menggantikan pemerintahan Netanyahu.
Pemilu Israel (Istimewa)