Ntvnews.id, Tel Aviv - Hasil sementara pemilihan umum (pemilu) Israel menunjukkan tidak ada blok politik yang berhasil memperoleh suara mayoritas untuk membentuk pemerintahan baru. Kondisi tersebut membuat persaingan antara kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan kelompok oposisi masih belum menemui kepastian.
Dilasir dari Al Jazeera, Jumat, 30 Oktober 2026, Hingga saat ini, lebih dari 99 persen suara telah selesai dihitung. Namun, baik kelompok pendukung Netanyahu maupun blok oposisi belum mampu mencapai ambang batas 61 kursi di parlemen atau Knesset yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Berdasarkan hasil penghitungan sementara, koalisi Netanyahu memperoleh 53 kursi. Sementara itu, blok oposisi yang dipimpin mantan panglima militer Gadi Eisenkot mengamankan 48 kursi. Adapun partai-partai Arab berhasil meraih 19 kursi, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pemungutan suara yang digelar pada Selasa, 27 Oktober 2026 tersebut menjadi pemilu pertama Israel sejak serangan kelompok milisi Hamas pada 7 Oktober 2023, yang kemudian diikuti dimulainya agresi militer Israel ke Jalur Gaza.
Hasil resmi pemilu dijadwalkan disahkan dan diumumkan paling lambat Rabu, 4 November 2026 pekan depan.
Baca Juga: Jelang Pemilu Sela, AS Instruksikan Negara Teluk Siaga Hadapi Iran
Di tengah belum adanya blok yang mengantongi suara mayoritas, sejumlah politikus Israel mulai melakukan pertemuan untuk membicarakan kemungkinan pembentukan koalisi pemerintahan.
Ynet News melaporkan bahwa Eisenkot pada Kamis bertemu dengan Netanyahu. Pertemuan tersebut membahas berbagai kemungkinan untuk membentuk pemerintahan baru "secepat mungkin".
Selain bertemu Netanyahu, Eisenkot juga mengadakan pertemuan dengan Ketua Partai Demokrat Yair Golan. Golan merupakan satu-satunya anggota aliansi Eisenkot yang menyatakan dukungan terhadap kemungkinan membangun koalisi bersama partai-partai Arab.
Golan juga diketahui telah bertemu dengan pemimpin Ra'am (United Arab), Mansour Abbas. Partai tersebut secara mengejutkan berhasil memperoleh perolehan suara tinggi dalam pemilu kali ini.
"Ini adalah saatnya bertindak. Tanggung jawab kita adalah untuk tidak melewatkan kesempatan untuk perubahan dan menyelamatkan Israel," kata Golan, seperti dikutip Al Jazeera.
Sementara itu, koresponden Al Jazeera Nour Odeh menilai Eisenkot menghadapi tantangan besar dalam upayanya membentuk pemerintahan baru. Ia mencatat bahwa "Eisenkot menghadapi perjuangan berat di hadapannya."
Eisenkot sebelumnya berjanji "untuk tidak bersekutu atau menjalin kemitraan dengan partai-partai Palestina-Israel. Namun, situasi politik setelah pemilu justru menempatkan oposisi dalam posisi sulit.
Pasalnya, tanpa dukungan partai-partai Arab, blok oposisi akan kesulitan mengumpulkan jumlah kursi yang cukup untuk menggeser pemerintahan Netanyahu. Dengan demikian, peluang terbentuknya koalisi baru sangat bergantung pada dinamika komunikasi dan negosiasi antarkelompok politik dalam beberapa hari ke depan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-81 di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, pada 24 September 2026. (Antara)