Ntvnews.id, Washington D.C - Pemilihan umum (pemilu) sela Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026 diperkirakan menjadi penentu kekuatan politik Presiden Donald Trump di Washington. Pemilu tersebut akan memperebutkan seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 35 dari 100 kursi Senat, serta jabatan gubernur di 39 negara bagian.
Saat ini, Partai Republik yang menjadi pendukung Trump menguasai mayoritas di Kongres dengan 218 kursi DPR dan 53 kursi Senat. Sementara itu, kursi lainnya dikuasai Partai Demokrat.
Pemilu paruh waktu kali ini menjadi ujian penting bagi kedua partai politik, terutama di tengah masa transisi politik dan agenda pemerintahan Trump pada periode keduanya.
Hasil pemilihan akan menentukan komposisi kekuasaan di Washington. Perubahan dominasi di Kongres juga dapat memengaruhi kemampuan pemerintahan Trump menjalankan kebijakan, sekaligus menentukan seberapa besar ruang bagi kelompok oposisi untuk mengawasi pemerintahan.
Baca Juga: Trump Bakal Larang Penggunaan Istilah Kecerdasan Artifisial, Diganti Jadi Kecerdasan Super
Dikutip dari Chatham House, pemilu sela akan membentuk keseimbangan politik di Amerika Serikat, termasuk menentukan kekuatan legislatif yang dimiliki pemerintah maupun oposisi.
Apabila Demokrat berhasil memperoleh tambahan kursi secara signifikan, dominasi Partai Republik di Kongres berpotensi berakhir. Peluang tersebut muncul di tengah menurunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kinerja Trump hanya mencapai 32 persen. Angka tersebut menjadi salah satu yang terendah sepanjang perjalanan politiknya.
Dilansir dari Al Jazeera, Senin, 2 November 2026, merosotnya popularitas Trump dipengaruhi kekecewaan masyarakat terhadap penanganan persoalan biaya hidup serta kebijakan pemerintahannya terkait perang dengan Iran.
Hasil survei menunjukkan hanya 17 persen responden yang menyatakan puas terhadap kebijakan Trump dalam mengatasi persoalan biaya hidup. Isu ekonomi tersebut diperkirakan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pilihan pemilih pada 3 November mendatang.
Situasi ini menjadi tantangan bagi Partai Republik yang berusaha mempertahankan keunggulan tipis di Kongres.
Survei daring terhadap 1.277 orang dewasa juga memperlihatkan adanya penurunan dukungan terhadap Trump, termasuk dari kalangan pemilih Partai Republik.
Sementara itu, jajak pendapat NBC News menemukan 52 persen calon pemilih menginginkan DPR AS berada di bawah kendali Partai Demokrat. Adapun 43 persen responden lainnya lebih memilih Partai Republik tetap memimpin lembaga tersebut.
Berdasarkan analisis NBC News Decision Desk yang menggunakan tiga indikator berbeda terkait kondisi politik nasional, Partai Demokrat berpeluang menambah perolehan kursi DPR, mulai dari beberapa kursi hingga puluhan kursi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara kepada awak media sebelum menaiki Marine One di South Lawn Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (Antara)
Meski demikian, Partai Republik masih memiliki peluang mempertahankan mayoritas atau setidaknya membatasi kemenangan Demokrat. Salah satu faktor yang dapat menguntungkan Partai Republik adalah peta daerah pemilihan yang lebih menguntungkan setelah adanya upaya redistribusi wilayah yang didukung Trump.
"Sebagian besar kursi yang dipegang Partai Republik berada di distrik-distrik yang dimenangkan Trump dengan selisih dua digit pada tahun 2024, yang berarti Partai Demokrat harus menjangkau lebih jauh ke negara bagian dan distrik yang dimenangkan Trump untuk meraih kemenangan besar," begitu analisis NBC News.
Meski persaingan pemilu sela kali ini semakin dipengaruhi isu politik nasional, hasil pemungutan suara di setiap daerah pemilihan belum tentu mencerminkan kecenderungan pemilih secara keseluruhan.
Karakteristik masing-masing distrik dan persoalan yang menjadi perhatian masyarakat setempat tetap memiliki pengaruh besar dalam menentukan hasil pemilihan.
Selain itu, sosok kandidat juga menjadi faktor penting. Petahana atau calon yang sedang menjabat masih memiliki keuntungan tersendiri dalam upaya mempertahankan kursinya.
Dengan demikian, meskipun Partai Demokrat menunjukkan peluang untuk memperkuat posisinya di Kongres, Partai Republik masih memiliki kesempatan mempertahankan kendali politik. Hasil pemilu sela pada 3 November mendatang akan menjadi penentu arah hubungan antara Gedung Putih dan Kongres selama sisa masa pemerintahan Trump.
Presiden AS Donald Trump menggelar konferensi pers di Kompleks Kepresidenan saat KTT NATO ke-36 para Kepala Negara dan Pemerintahan di Ankara, Turkiye, pada 8 Juli 2026. (Antara)