Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran memperingatkan potensi perang baru dengan Amerika Serikat (AS) dapat berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Pernyataan tersebut disampaikan Teheran menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyebut masih terdapat sejumlah target di Iran yang perlu diserang.
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia menegaskan bahwa Washington tidak akan bisa menentukan kapan perang berakhir maupun menetapkan persyaratan penghentiannya.
"Perang yang mungkin terjadi di masa depan bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya. Presiden Amerika Serikat tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu ataupun syarat berakhirnya perang tersebut," kata Akraminia melalui televisi pemerintah Iran, dikutip dari AFP, Senin, 2 November 2026.
Peringatan tersebut muncul ketika upaya diplomatik antara kedua negara masih berlangsung. Sehari sebelumnya, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei mengungkapkan telah menerima surat dari Wakil Presiden AS JD Vance yang berisi upaya untuk kembali membuka jalur perundingan.
Rezaei menilai terdapat perubahan positif dalam nada komunikasi Washington. Namun, ia mengaku belum memberikan balasan atas surat tersebut.
Ia menegaskan Teheran sebelumnya telah menyampaikan kepada Washington bahwa perundingan tidak akan dilanjutkan dan Selat Hormuz tetap ditutup apabila tuntutan Iran belum dipenuhi.
Sejumlah persyaratan yang diajukan Iran meliputi pencairan aset negara yang dibekukan di luar negeri, penghentian blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi yang telah lama diberlakukan, serta penghentian perang di seluruh front.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Tegaskan Syarat Iran Harus Dipenuhi untuk Akhiri Perang dengan AS
Di tengah komunikasi diplomatik tersebut, Trump kembali melontarkan ancaman serangan terhadap sejumlah fasilitas di Iran. Ia mengisyaratkan militer AS dapat menyerang beberapa target yang menurutnya belum ditangani.
"Kami masih harus menangani, bisa saya katakan, satu atau dua lokasi. Namun, kami bisa melakukannya dalam 10 menit," kata Trump kepada wartawan di kediamannya di Florida.
"Anda mungkin bisa melihat Gunung Pickaxe, dan itu harus ditangani. Kami bisa melakukan semuanya dengan sangat cepat," tambahnya.
Pernyataan Trump tersebut merujuk pada Gunung Pickaxe, lokasi yang diduga menjadi tempat kompleks fasilitas nuklir bawah tanah Iran.
Upaya diplomasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah hingga kini masih diwarnai ancaman serangan udara lanjutan dari AS dan Israel. Ketegangan tersebut berlangsung di tengah agenda pemilihan umum penting di kedua negara.
Baca Juga: Young Lex Ikut 'Labrak' Raffi Ahmad Buntut Kecewa Soal Deklarasi Bundaran HI
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. (Antara)
Sejumlah pejabat militer dan politik Iran telah berulang kali memperingatkan Washington dan Tel Aviv agar tidak kembali melancarkan serangan terhadap wilayah mereka.
Juru bicara Garda Revolusi Iran Hossein Mohebbi pada Minggu kembali menyampaikan peringatan serupa. Pernyataan itu mengulangi pesan tertulis yang sebelumnya disampaikan pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, sehari sebelumnya.
"Dalam konflik dengan Amerika, tidak ada batasan geografis. Wilayah operasi yang luas telah ditetapkan untuk memberikan kerugian kepada musuh," kata Mohebbi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berharap pihak lawan dapat mempertimbangkan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ia menegaskan Iran tetap memiliki kesiapan untuk menghadapi kemungkinan perang maupun melanjutkan perundingan.
Ketegangan antara Iran dan AS juga menjadi perhatian negara-negara di kawasan Teluk. Penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Anwar Gargash berharap komunikasi yang kembali terjalin dapat membuka peluang tercapainya kesepakatan diplomatik.
Meski demikian, UEA tetap mengantisipasi kemungkinan konflik kembali pecah.
"Melalui putaran konflik berikutnya, kawasan ini tidak akan mendapatkan keuntungan apa pun. Namun, seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya, kami juga bersiap menghadapi kemungkinan terburuk," katanya.
Pernyataan tersebut mencerminkan kekhawatiran negara-negara kawasan terhadap dampak eskalasi konflik. Jika serangan kembali terjadi, ketegangan berpotensi meluas dan semakin mengancam stabilitas keamanan Timur Tengah.
Ilustrasi - Para demonstran anti-perang menggelar protes di dekat Gedung Putih menentang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, di Washington DC, Amerika Serikat pada 7 April 2026. Di tengah demonstrasi tersebut, Presiden AS Donald Trump (Antara)