Tujuh Syarat dari Iran Sebelum Bersedia Berunding dengan AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Nov 2026, 08:15
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Arsip foto - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Pemerintah Iran menetapkan tujuh persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS) sebelum bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan untuk mengakhiri konflik kedua negara.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memaparkan secara terperinci tujuh tuntutan tersebut dalam sebuah percakapan pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, menyebut persyaratan itu sebenarnya telah dirumuskan sejak September. Namun, pada saat itu, ia baru menyampaikan sejumlah tuntutan kepada publik.

Salah satu tuntutan yang sebelumnya disampaikan Rezaei adalah penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran juga meminta Washington tidak mencampuri urusan dalam negeri Iran, termasuk hubungan pemerintah dengan "para penentang revolusi kami".

Rezaei menegaskan Iran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz ataupun kembali ke meja perundingan sebelum seluruh persyaratan tersebut dipenuhi.

"Kita tidak akan kembali ke diplomasi masa lalu, tetapi kita juga tidak sepenuhnya meninggalkan diplomasi," kata Rezaei dalam pernyataan yang dikutip dari ISNA, Selasa, 3 November 2026.

Baca Juga: Menlu AS Sebut Trump Belum Putuskan Serangan Baru terhadap Iran

Ia juga menyatakan Iran kini tidak lagi menginginkan kesepakatan yang hanya bergantung pada komitmen politik tanpa jaminan yang jelas.

Rezaei menambahkan bahwa pilihan utama Teheran adalah meredakan ketegangan. Namun, ia memperingatkan kemampuan Iran akan semakin berkembang apabila AS terus memperpanjang konflik, meskipun "ini bukanlah yang diinginkan Teheran".

Di tengah ketegangan tersebut, Rezaei mengancam Iran dapat memanfaatkan kemampuan persenjataan barunya untuk menyerang aset-aset AS di kawasan Timur Tengah jika perang berlanjut. Sasaran yang disebutkan termasuk kabel dan fasilitas kecerdasan buatan (AI).

Meski demikian, ia mengakui bahwa blokade dalam jangka panjang juga akan berdampak negatif terhadap Iran. Menurutnya, pihak yang menganggap negaranya tidak akan terkena dampak dari situasi tersebut "bersikap tidak realistis".

Rezaei turut mengklaim Iran telah "menargetkan lima kapal milik penyelundup setiap malam selama dua hingga tiga bulan terakhir," sebagaimana dilaporkan Anadolu.

Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel meningkat setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap Teheran pada 28 Februari. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di Timur Tengah.

Konflik tersebut berdampak pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang secara efektif tertutup. Jalur perairan strategis itu merupakan salah satu rute utama distribusi energi dunia.

Sebelumnya, AS dan Iran sempat menandatangani nota kesepahaman pada Juni sebagai langkah awal menuju kesepakatan perdamaian permanen. Namun, upaya tersebut tidak berlanjut setelah kedua pihak berselisih mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz.

Berikut tujuh persyaratan yang diajukan Iran kepada AS sebelum melanjutkan perundingan:

  1. Mencabut sanksi yang diberlakukan AS terhadap Iran setelah kegagalan nota kesepahaman (MoU) Islamabad pada Juli.

  2. Mengurangi keberadaan militer AS di kawasan Timur Tengah.

  3. Mengaktifkan kembali pengecualian impor minyak yang diberikan pada Juni sebagai bagian dari MoU.

  4. Membebaskan aset keuangan Iran yang dibekukan, termasuk dana yang disimpan di Qatar.

  5. Mengakui secara resmi jalur pelayaran baru di Selat Hormuz yang ditetapkan Iran dan Oman, sekaligus menutup jalur lainnya.

  6. Mengakhiri perang di seluruh front, terutama serangan Israel terhadap Lebanon.

  7. Menghentikan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta tidak mencampuri urusan dalam negeri negara tersebut.

 

TERKINI

Load More