Netanyahu Desak Trump Kembali Serang Iran Usai Pemilu Sela AS

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 3 Nov 2026, 07:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Siti Ruqoyah
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Agency/pri. Arsip foto - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan kembali meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS yang berlangsung pada Selasa, 3 November 2026 waktu setempat.

Laporan Axios yang mengutip seorang sumber dari AS dan satu sumber Israel menyebutkan, desakan tersebut disampaikan Netanyahu ketika berbicara melalui sambungan telepon dengan Trump pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Dalam percakapan itu, kedua pemimpin membahas perkembangan perundingan antara Washington dan Teheran, termasuk peluang Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran.

Netanyahu disebut meminta Trump mempertimbangkan operasi militer terhadap Teheran dalam waktu dekat setelah pemilu paruh waktu AS selesai digelar.

Namun, pembicaraan kedua pemimpin tersebut dikabarkan berlangsung cukup alot. Sumber Israel menyebut Trump masih lebih memilih mengutamakan jalur diplomasi dan negosiasi dibandingkan melancarkan operasi militer.

Baca Juga: Demo di Israel Desak Oposisi Berkoalisi dengan Partai Arab untuk Gulingkan Netanyahu

Gedung Putih maupun kantor Perdana Menteri Israel menolak memberikan tanggapan terkait laporan tersebut.

Trump sebelumnya pernah menerapkan pendekatan serupa dalam menghadapi Iran. Washington membuka ruang negosiasi, tetapi pada saat bersamaan menyiapkan operasi militer berskala besar untuk melemahkan Teheran pada Februari 2026 dan Juni 2025.

Di tengah perkembangan tersebut, Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan telah mengirimkan surat kepada Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei pada pekan lalu. Surat itu berisi ajakan agar kedua negara kembali melanjutkan perundingan.

Trump pada Sabtu, 31 Oktober 2026, mengatakan bahwa komunikasi dengan Iran berjalan positif. Meski demikian, ia mengaku tidak ingin terburu-buru mencapai kesepakatan.

Di sisi lain, Trump kembali menyinggung fasilitas nuklir Iran yang masih dipandang sebagai ancaman oleh pemerintah AS. Ia bahkan menyebut Washington telah menyiapkan rencana untuk menangani fasilitas tersebut.

"Kami bisa mengurusnya dalam 10 menit. Kami sudah merencanakannya. Anda bisa lihat Gunung Pickaxe. Kami perlu mengatasinya. Kami bisa melakukannya dengan sangat cepat," ucap Trump.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu, 1 November 2026, menegaskan bahwa hingga kini belum ada kesepakatan yang dicapai dengan Amerika Serikat. Menurutnya, peluang tercapainya kesepakatan masih bergantung pada respons Washington terhadap sejumlah pertanyaan yang diajukan Teheran.

"Kami melakukan segala upaya dalam hal ini dan berharap pihak sana menunjukkan rasionalitas yang cukup untuk memilih diplomasi daripada hal lain," ujar Araghchi.