AS Tembak Jatuh Lebih dari 300 Drone Kartel di Perbatasan Meksiko

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Sep 2026, 14:53
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Drone atau pesawat nirawak. ANTARA/Xinhua/pri Ilustrasi - Drone atau pesawat nirawak. ANTARA/Xinhua/pri (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Otoritas Amerika Serikat (AS) mengungkapkan telah menembak jatuh lebih dari 300 drone yang diduga dioperasikan kartel di sepanjang kawasan perbatasan dengan Meksiko sejak awal 2026.

Komando Utara AS (USNORTHCOM), yang wilayah operasinya mencakup Amerika Serikat dan negara-negara di sekitarnya, menghubungkan penggunaan drone tersebut dengan aktivitas perdagangan narkoba. Namun, pihak militer AS tidak menyebutkan secara spesifik kelompok kartel yang dimaksud.

USNORTHCOM juga menyatakan sekitar 100 drone berhasil ditembak jatuh sepanjang Agustus 2026. Meski demikian, mereka tidak menjelaskan secara rinci di sisi mana dari perbatasan insiden tersebut terjadi.

Dilansir dari AFP, Sabtu, 5 September 2026, militer AS menyebut drone-drone itu dimanfaatkan oleh organisasi-organisasi kriminal transnasional... untuk mendukung aktivitas lintas batas ilegal, termasuk operasi penyelundupan dan pengawasan terhadap penegak hukum dan personel militer.

Pemerintah Meksiko memberikan penjelasan berbeda mengenai penggunaan perangkat tanpa awak tersebut. Menteri Pertahanan Meksiko Ricardo Trevilla mengatakan drone terutama dimanfaatkan oleh penyelundup migran untuk memantau wilayah perbatasan yang minim pengawasan.

Menurut Trevilla, para penyelundup menggunakan drone untuk mencari titik-titik di sepanjang perbatasan di mana tidak ada otoritas yang hadir.

Baca Juga: Iran Ungkap Serang Pangkalan Udara di UEA dengan Puluhan Drone

Di sisi lain, penggunaan drone oleh kartel tidak hanya berkaitan dengan aktivitas penyelundupan. Perangkat tersebut juga dilaporkan digunakan dalam konflik antarkelompok kriminal maupun untuk menyerang aparat pemerintah.

Salah satu kasus terjadi pada Oktober 2025. Saat itu, kantor kejaksaan di Tijuana, Meksiko, yang berada tidak jauh dari perbatasan Amerika Serikat, menjadi sasaran serangan drone yang membawa bahan peledak.

Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan pada fasilitas, tetapi tidak menimbulkan korban jiwa.

Meningkatnya penggunaan drone oleh kelompok kriminal di kawasan perbatasan menjadi perhatian aparat keamanan kedua negara. Perangkat tanpa awak tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk memantau pergerakan aparat, membantu operasi penyelundupan, hingga digunakan sebagai sarana serangan.

x|close