Ntvnews.id, Jakarta - Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI baru saja menorehkan sejarah baru dalam perjalanan 14 tahun berdirinya lembaga tersebut. Melalui gelaran Festival Etik 2026, DKPP resmi mengumumkan barisan pemenang lomba video kreatif dan karya tulis jurnalistik yang didominasi oleh wajah-wajah baru dari kalangan jurnalis muda dan mahasiswa di Indonesia.
Langkah ini dipandang bukan sekadar seremoni ulang tahun, melainkan sebuah investasi jangka panjang untuk mengawal integritas demokrasi menuju Pemilu 2029.
Digelar di Gedung DKPP, Jakarta, pada Kamis 11 Juni 2026, acara ini menjadi puncak dari rangkaian kompetisi yang telah dibuka sejak 28 April hingga 31 Mei lalu. Antusiasme publik ternyata melampaui ekspektasi. Sebanyak 217 peserta ikut berpartisipasi, dengan rincian 130 peserta di kategori video kreatif dan 87 peserta di kategori karya tulis jurnalistik.
Anggota DKPP RI Ratna Dewi Pettalolo (NTVNews)
Anggota DKPP RI, Ratna Dewi Pettalolo, mengungkapkan rasa bangganya atas keberhasilan gebrakan baru ini. Menurutnya, Festival Etik adalah ide segar yang menandai kedewasaan DKPP di usia 14 tahun.
"Ini adalah pertama kalinya sejak DKPP berdiri kita melaksanakan kegiatan semacam ini. Kami ingin memastikan bahwa DKPP hadir sebagai penjaga etika penyelenggara pemilu tidak hanya saat hiruk-pikuk tahapan pemilu berlangsung, tetapi juga di masa non-tahapan," ujar Ratna Dewi di kantor DKPP, Kamis, 11 Juni 2026.
Salah satu poin paling menarik dari festival ini adalah komposisi peserta. Mayoritas karya yang masuk lahir dari tangan-tangan kreatif jurnalis muda dan mahasiswa. Bagi Ratna Dewi, fenomena ini adalah angin segar sekaligus harapan baru.
Keterlibatan anak muda dipandang sebagai kunci untuk memutus rantai masalah klasik pemilu, seperti politik uang, penyalahgunaan wewenang, hingga kecurangan pergeseran suara.
"Saya sangat optimis. Kita punya harapan besar bahwa Pemilu 2029 akan jauh lebih berkualitas. Melihat anak-anak muda ini peduli, kreatif, dan mau ikut mengawasi lewat karya, artinya kita memiliki barisan penjaga demokrasi yang kuat di masa depan," imbuhnya.
Ratna menekankan bahwa keterlibatan generasi muda sejak dini akan membentuk pemilih yang kritis dan jurnalis yang berintegritas saat mereka terjun langsung dalam pesta demokrasi tiga tahun mendatang.
Lebih dari sekadar lomba, Festival Etik 2026 membawa pesan filosofis tentang kedaulatan rakyat. DKPP ingin menegaskan bahwa tugas menjaga suara rakyat tidak berhenti setelah surat suara dihitung di TPS.
"Inti dari kegiatan ini adalah inklusivitas. Kita ingin melibatkan semua pihak untuk memastikan daulat rakyat tetap terjaga, bahkan hingga pemerintahan baru terbentuk dan bekerja," jelasnya.
Dengan menjadikan DKPP sebagai benteng terakhir penegakan etika, Ratna berharap proses demokrasi di Indonesia tidak hanya dipandang sebagai prosedur administratif, tetapi sebagai proses moral yang jujur dan adil.
Penutupan Festival Etik 2026 ini memberikan pesan kuat bagi publik: bahwa pengawasan pemilu bukan hanya tugas lembaga formal, melainkan tanggung jawab kolektif. Dengan partisipasi aktif jurnalis muda, DKPP optimis literasi etika pemilu akan semakin luas menjangkau masyarakat akar rumput.
"Semoga manfaat dari proses pemilu yang jujur dan adil ini bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, dan DKPP akan terus eksis mengawal marwah penyelenggara pemilu di negeri ini," pungkas Ratna Dewi menutup sambutannya.
Gelaran Festival Etik 2026 (NTVNews)