Turki Geram dengan Israel yang Selalu Serang Sekolah Rumah Sakit di Iran dan Lebanon

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 16 Mar 2026, 08:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. (Dok.Antara)

Ntvnews.id, Ankara - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melontarkan kritik keras terhadap Israel yang ia sebut sebagai jaringan haus darah. Ia menuding Israel terus menargetkan fasilitas sipil seperti sekolah dan rumah sakit di Iran dan Lebanon, dengan pola serangan yang menurutnya sama seperti yang terjadi di Jalur Gaza.

"Jaringan haus darah terus menyerang sekolah dan rumah sakit di Iran dan Lebanon, persis seperti yang mereka lakukan di Gaza," tegas Erdogan dalam acara buka puasa bersama untuk memperingati Hari Kedokteran 14 Maret di Fakultas Kedokteran Universitas Istanbul, sebagaimana dikutip dari Anadolu, Senin, 16 Maret 2026.

Menanggapi meningkatnya ketegangan di kawasan, Erdogan menyatakan bahwa Turki tetap berada di garis depan negara-negara yang mengedepankan rasionalitas serta jalur diplomasi.

"Menghadapi situasi yang gila ini, Turki berada di garda terdepan dalam membela kemanusiaan, membela logika, dan mencari solusi krisis melalui dialog," ujarnya.

Baca Juga: MotoGP Qatar 2026 Ditunda Akibat Konflik Iran vs AS-Israel

Erdogan juga menyoroti besarnya korban kemanusiaan yang muncul akibat konflik tersebut. Ia mengatakan dunia saat ini menyaksikan situasi tragis ketika nilai kehidupan manusia seolah tidak lagi dihargai, dengan korban mulai dari bayi yang dirawat di inkubator hingga anak-anak sekolah yang meninggal akibat serangan bom.

Dalam konflik di Gaza, Erdogan menyebut hampir 1.700 tenaga kesehatan, termasuk dokter dan perawat tewas akibat serangan yang dilakukan Israel.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam sejak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah pemukiman penduduk Iran. (ANTARA/Anadolu/py) <b>(Antara)</b> Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah pemukiman penduduk Iran. (ANTARA/Anadolu/py) (Antara)

Salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian adalah serangan terhadap sebuah sekolah dasar khusus perempuan di Iran yang menyebabkan lebih dari 150 anak-anak meninggal dunia.

Sebagai respons, Teheran meluncurkan serangkaian serangan drone dan rudal yang diarahkan ke Israel serta sejumlah negara di kawasan yang menampung aset militer Amerika Serikat.

Melihat situasi konflik tersebut, Erdogan menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Turki tidak ditentukan semata oleh kepentingan geopolitik ataupun ekonomi.

Baca Juga: Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Dibuka bagi Negara yang Patuhi Protokol

"Kami akan mempertahankan sikap kemanusiaan. Kami tidak melihat peristiwa melalui nilai minyak, emas, gas alam, atau mineral, melainkan melalui lensa keadilan, kasih sayang, dan martabat manusia," terang Erdogan.

Di akhir pernyataannya, Erdogan mengutip ayat dalam Al-Qur'an, tepatnya Surah Al-Ma'idah ayat 32, yang menyebut bahwa menyelamatkan satu nyawa sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Ia juga menegaskan prinsip yang menjadi landasan pemerintahannya: "Biarkan rakyat hidup, agar negara dapat hidup."

x|close