Trump Ancam Hancurkan Total Rezim Iran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 14 Mar 2026, 13:00
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Ramses Manurung
Editor
Bagikan
Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) Arsip foto - Presiden AS Donald Trump. (ANTARA/Anadolu Ajansi/pri) (Antara)

Ntvnews.id, Washington D.C - Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat. Sejumlah pengamat menilai Iran menunjukkan ketahanan militer yang lebih kuat dari perkiraan awal Washington dalam menghadapi tekanan perang yang berlangsung.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun merespons perkembangan tersebut dengan memperkeras retorika terhadap pemerintah Iran. Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menegaskan niatnya untuk menghancurkan rezim yang berkuasa di Teheran.

"Kami akan menghancurkan sepenuhnya rezim teroris Iran, secara militer, ekonomi, dan dengan cara lain," tulis Presiden AS Donald Trump di platform onlinenya, Truth Social.

Dalam pernyataannya, Trump mengklaim kemampuan militer Iran telah melemah drastis. Ia menyebut angkatan laut Iran sudah tidak lagi berfungsi, sementara kekuatan udara negara tersebut juga telah dihancurkan. Selain itu, Trump menegaskan bahwa sistem persenjataan Iran seperti rudal dan drone juga akan dilumpuhkan.

Ia juga menyatakan para pemimpin Iran telah "dihapus dari muka Bumi".

Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat memiliki keunggulan besar dalam hal kekuatan militer.

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki "kekuatan tembak yang tak tertandingi, amunisi tak terbatas, dan banyak waktu."

Baca Juga: Trump Duga Putin Bantu Iran dalam Perang Melawan AS-Israel

Presiden AS itu juga menyebut para anggota kepemimpinan Iran sebagai "bajingan yang terganggu jiwanya", dan mengatakan bahwa merupakan "kehormatan besar" baginya untuk membunuh mereka.

Sebelumnya, Trump sempat menyampaikan bahwa perang melawan Iran berpotensi segera berakhir. Namun kenyataannya, serangan balasan dari Iran serta kelompok milisi sekutunya terhadap Israel dan beberapa negara di kawasan Timur Tengah masih terus berlangsung.

Pada Jumat dini hari, serangan rudal dilaporkan menghantam wilayah utara Israel. Layanan penyelamat Magen David Adom melaporkan puluhan orang mengalami luka-luka di kota Sarsir yang berada dekat Nazareth. Beberapa rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.

Negara-negara kawasan Teluk juga kembali menjadi sasaran serangan drone. Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat sejumlah drone yang mengarah ke wilayahnya. Sementara di Oman dilaporkan dua orang tewas akibat drone yang jatuh.

Di Dubai, serpihan proyektil yang berhasil ditembak jatuh dilaporkan menghantam sebuah bangunan yang berada di dekat pusat keuangan kota tersebut.

Serangan juga terjadi di wilayah Erbil di utara Irak. Dalam insiden tersebut, seorang anggota militer Prancis dilaporkan tewas. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam serangan tersebut.

Donald Trump <b>(Instagram @realdonaldtrump)</b> Donald Trump (Instagram @realdonaldtrump)

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan serangan itu "tidak dapat diterima." Ia menambahkan, "Perang di Iran tidak bisa dijadikan pembenaran atas serangan seperti ini."

Militer Amerika Serikat juga dilaporkan kehilangan sebuah pesawat tanker di Irak. Komando militer AS menyebut insiden itu tidak disebabkan oleh tembakan musuh maupun serangan dari pihak sekutu. Empat awak pesawat dinyatakan tewas dalam kejadian tersebut. Namun, sebuah kelompok milisi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas penembakan pesawat itu.

Sementara itu, militer Israel melancarkan gelombang baru serangan udara ke ibu kota Iran, Teheran. Menurut pihak militer Israel, serangan tersebut menyasar berbagai infrastruktur milik pemerintah Iran yang mereka sebut sebagai bagian dari jaringan "rezim teroris".

Israel juga kembali menggempur sejumlah target di Lebanon untuk melemahkan kelompok milisi Hezbollah. Salah satu sasaran serangan adalah Jembatan Srarieh yang berada di atas Sungai Litani.

Di Washington, Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa seluruh sumber daya militer Amerika saat ini difokuskan untuk melumpuhkan kemampuan ofensif Iran, termasuk terkait situasi blokade di Selat Hormuz.

Ia mengakui bahwa saat ini Amerika Serikat belum sepenuhnya mampu mengawal kapal tanker yang melintasi jalur tersebut. Namun menurutnya, Angkatan Laut AS diperkirakan segera dapat melaksanakan tugas pengawalan tersebut.

Baca Juga: Trump Persilakan Timnas Iran Tampil di Piala Dunia 2026, Namun...

Di tengah memanasnya konflik, pemerintahan Trump juga mengambil langkah terkait pasar energi global. Dengan harga minyak yang mendekati 100 dolar AS per barel, Washington memberikan izin sementara untuk pembelian minyak dari Rusia. Kebijakan pengecualian dari sanksi tersebut berlaku hingga 11 April.

Langkah ini berpotensi memberi ruang bagi Rusia, yang telah menjalankan perang melawan Ukraina selama lebih dari empat tahun, untuk sementara meningkatkan pendapatan dari ekspor minyak mentahnya.

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik keputusan Washington tersebut.

"Melonggarkan sanksi sekarang, apa pun alasannya, menurut kami adalah langkah yang salah," kata Merz saat berkunjung ke Norwegia.

Sementara itu, utusan Kremlin Kirill Dmitriev menilai kebijakan tersebut sebagai pengakuan terhadap realitas pasar energi global.

Utusan Kremlin Kirill Dmitriev menulis di Telegram bahwa langkah tersebut menunjukkan pengakuan atas kenyataan: "AS pada dasarnya mengakui hal yang jelas—tanpa minyak Rusia, pasar energi global tidak dapat tetap stabil."

x|close