Ntvnews.id, Taheran - Garda Revolusi Iran (IRGC) menegaskan bahwa stabilitas keamanan merupakan “garis merah” yang tidak boleh dilanggar, seraya menyatakan komitmen militer untuk menjaga fasilitas umum dan aset negara.
Dilansir dari Reuters, Minggu, 11 Januari 2026, pernyataan itu disampaikan di tengah gelombang aksi protes besar yang melanda berbagai kota di Iran.
Peringatan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman kepada para pemimpin Iran pada Jumat, 9 Januari 2026, di saat demonstrasi meluas di sejumlah kota besar.
Sehari berselang, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyatakan dukungan Washington dengan mengatakan, "Amerika Serikat mendukung rakyat Iran yang berani."
Baca Juga: Polisi: Situasi di Iran Sudah Tenang Sehari Setelah Kerusuhan Massal
Aksi unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan dilaporkan terus berlangsung hingga malam hari. Media pemerintah Iran menyebut sebuah gedung pemerintah kota di Karaj, wilayah barat Teheran, dibakar dan menuding pelakunya sebagai “para perusuh.” Televisi pemerintah juga menayangkan prosesi pemakaman anggota pasukan keamanan yang diklaim tewas dalam bentrokan di kota Shiraz, Qom, dan Hamedan.
Dalam dua pekan terakhir, protes telah meluas ke sebagian besar wilayah Iran. Awalnya, aksi tersebut dipicu lonjakan inflasi, namun kemudian berkembang menjadi tuntutan politik dengan seruan agar pemerintahan ulama diakhiri.
Otoritas Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik pemicu “kerusuhan,” sementara kelompok hak asasi manusia melaporkan puluhan demonstran meninggal dunia.
Ilustrasi - Bendera negara Iran dan Amerika Serikat. /ANTARA/Anadolu/py/am. (Antara)
Dilansir Al Arabiya, seorang saksi mata di Iran barat yang dihubungi lewat sambungan telepon mengatakan bahwa pasukan Garda Revolusi dikerahkan dan melepaskan tembakan di kawasan tersebut. Saksi itu meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah, IRGC menuduh kelompok teroris menyerang pangkalan militer dan aparat penegak hukum selama dua malam terakhir, yang mengakibatkan tewasnya sejumlah warga sipil dan personel keamanan.
Baca Juga: KSOP Larang Pergerakan Kapal pada Malam Hari di Perairan TN Komodo
IRGC menegaskan bahwa menjaga capaian Revolusi Islam 1979 serta memastikan keamanan nasional adalah “garis merah,” dan menilai situasi yang terus berlanjut tidak dapat diterima.
Sementara itu, militer Iran yang terpisah dari IRGC namun sama-sama berada di bawah komando Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menyatakan akan "melindungi dan menjaga kepentingan nasional, infrastruktur strategis negara, dan properti publik."
Demo Iran (Anadolu)